BULAKSUMUR, KAGAMA – Inovasi dari daur ulang mengilhami empat mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan lampu ramah lingkungan. Lampu tersebut dibuat dengan memanfaatkan kaleng bekas dan cahaya matahari sebagai sumber cahaya.

Mereka adalah Aditya Ramdhona, Anggraini Puspitasari, Nesditira Sunu S, dan Satrio Bayu Aji yang berhasil mengembangkan lampu tanpa listrik. Hasil kreasi mereka diberi nama Slocan (Solar in a Can).

Proses inovasi diawali dari keprihatinan mereka terhadap banyaknya sampah kaleng. Kondisi tersebut mendorong mereka mencari solusi memanfaatkan limbah kaleng bekas menjadi barang bernilai guna. Di sisi lain, mereka juga melihat konsumsi listrik, khususnya porsi penggunaan lampu cukup banyak di siang hari. Padahal, potensi sinar matahari di luar ruangan jumlahnya tak terbatas.

Berangkat dari kondisi tersebut mereka mengembangkan Slocan dengan pembiayaan dari dana hibah  Dirjen DIKTI melalui Program Kreativitas Mahasiswa 2017.

Kaleng bekas dimanfaatkan untuk proses inovasi teknologi penciptaan tenaga listrik melalui cahaya matahari (Foto Dok. Humas UGM)
Kaleng bekas dimanfaatkan untuk proses inovasi teknologi penciptaan tenaga listrik melalui cahaya matahari (Foto Dok. Humas UGM)

 

“Masih banyak terjadi pemborosan energi dengan penggunaan lampu di siang hari, baik di perkantoran maupun rumah. Sementara potensi sinar matahari di luar ruangan jumlahnya tidak terbatas,” ungkap Aditya Ramdhona, Ketua Tim PKM Solacan.

Menurut Aditya, kondisi tersebut banyak terjadi akibat akses cahaya matahari masuk ke dalam ruangan sangat terbatas. Dengan begitu, ruang menjadi gelap bila lampu tidak dihidupkan meskipun pada siang hari. “Solacan ini hadir untuk mengatasi persoalan tersebut,” jelasnya.

Cara kerja alat itu cukup sederhana. Kaleng bekas digunakan untuk meneruskan cahaya matahari yang berada di luar ruang agar bisa masuk ke dalam ruangan. Pertama, cahaya dikumpulkan oleh light collector berbentuk cembung. Kemudian, cahaya tersebut diteruskan ke tabung dan dipantulkan sehingga menuju ujung Solacan dan light diffuser akan menyebarkan cahaya ke seluruh ruangan.

“Prinsip kerjanya dengan pemantulan cahaya,” ungkapnya.

Sunu menambahkan, lampu tanpa listrik itu tidak hanya mampu menghemat penggunaan energi listrik. Namun, dengan pencahayaan alami  melalui Solacan juga dapat menimbulkan efek fisiologis yang positif untuk kesehatan manusia. “Selain itu, juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan,” jelasnya.

Pemanfaatan kaleng bekas menjadi Solacan, lanjutnya, juga dapat meningkatkan nilai ekonomis limbah kaleng bekas. Poduk ini dapat dikembangkan secara massal oleh masyarakat termasuk pemulung sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga. Mereka pun berharap Solacan ini dapat dimanfaatkan secara luas untuk kepentingan masyarakat Indonesia. [Humas UGM/Ika/rts]