Kemenperin mencatat, pada triwulan II tahun 2017, pertumbuhan industri mamin nasional sebesar 7,19 persen.

Sektor strategis ini juga berperan penting dalam memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri non-migas, di mana mampu menyumbangkan sebesar 34,42 persen atau tertinggi dibanding subsektor lainnya.

“Industri mamin di Tanah Air cukup banyak dan tidak hanya meliputi perusahaan skala besar saja, tetapi telah menjangkau di tingkat kabupaten untuk kelas industry kecil dan menengah (IKM) dan sebagian besar dari mereka sudah ada yang go international,” ungkapnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memukul gong pada pembukaan Pembukaan Pameran Produk Industri Makanan dan Minuman disaksikan Dirjen Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto dan Supply Chain and Procurement Director Garuda Food Johannes Setiadharma serta Direktur Industri Minuman, Tembakau dan Bahan Penyegar Ditjen Agro Abdul Rochim di Plasa Pameran Industri, Jakarta.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memukul gong guna membuka Pameran Produk Industri Makanan dan Minuman disaksikan Dirjen Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto dan Supply Chain and Procurement Director Garuda Food Johannes Setiadharma serta Direktur Industri Minuman, Tembakau dan Bahan Penyegar Ditjen Agro Abdul Rochim di Plasa Pameran Industri, Jakarta.

Apalagi, Menperin menyatakan, pihaknya tengah memacu kinerja industri padat karya berorientasi ekspor.

Jadi, Kemenperin mengusulkan penghitungan insetif fiskal berupa tax allowance berbasis pada jumlah penyerapan tenaga kerja.

“Regulasi ini sedang dibahas dengan Kementerian Keuangan, kami berharap tahun ini peraturannya bisa keluar,” tegas Menteri Airlangga.

Di samping itu, guna mendongkrak produktivitas, Kemenperin terus berupaya mendorong pemenuhan bahan baku bagi industri mamin.

“Industri kan basisnya nilai tambah. Untuk proses hilirisasi, sekor hulu perlu dijamin ketersediaan bahan bakunya seperti gandum, gula, dan garam,” imbuhnya.

Menurut Airlanga, langkah tersebut turut memicu peningkatan investasi di dalam negeri.

Pada semester I tahun 2017, nilai investasi industri mamin mencapai Rp37,36 triliun atau naik 25,41 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp29,79 triliun. Peningkatan investasi terjadi dalam bentuk penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA).