Inklusifitas dan Literasi Masyarakat Jadi Kunci Agar Perbankan Syariah Tetap Eksis

45
(Foto: CEO BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo) Soal eksistensi perbankan syariah mengemuka dalam disusi daring yang digelar oleh MM UGM, MMSA dan KAFEGAMA MM. Dok: Ist
(Foto: CEO BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo) Soal eksistensi perbankan syariah mengemuka dalam disusi daring yang digelar oleh MM UGM, MMSA dan KAFEGAMA MM. Dok: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – MM UGM, KAFEGAMA MM, dan MMSA menggelar diskusi bertajuk Strategi Perbankan Indonesia Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19, pada Minggu (12/07/2020).

Perwakilan panitia acara, Risto Samosir mengatakan, diskusi ini digelar bertujuan untuk membuka kesempatan sharing knowledge dari alumni untuk alumni, mahasiswa, dan masyarakat umum, sekaligus juga sebagai kontribusi KAFEGAMA MM dalam menghadapi pandemi.

Sementara itu, Direktur MM UGM Jakarta, Eduardus Tandelilin dalam sambutannya, menyampaikan pelaku di sektor perbankan akan menghadapi tantangan besar di masa pandemi.

“Dengan adanya diskusi ini, kita berharap ada pencerahan, mengenai peluang-peluang yang bisa diambil, supaya tetap bertahan,”ujarnya.

Senada dengan Risto, Eduardus menyampaikan, diskusi kali ini merupakan bagian dari kepedulian institusi pendidikan MM UGM kepada masyarakat.

Baca juga: Sikap Agile dalam Perilaku Penting untuk Membentuk Budaya Tatanan Baru

CEO BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo, sebagai pembicara menyampaikan pengalaman dan strateginya selama bergelut di diunia perbankan.

Menurutnya, para pelaku di dunia perbankan perlu melihat pandemi Covid-19 dari sisi yang lain. Sebab, dalam situasi sekarang tercipta beberapa peluang bisnis yang bisa dimanfaatkan.

“Kami lihat ada perubahan behavior. Nasabah mulai meninggalkan cara konvensional dalam bertransaksi dan beralih ke digital. Ekosistem digital inilah yang jadi peluang baik kita untuk berkembang,” tuturnya.

Selain itu, penting bagi sektor perbankan untuk membangun ekonomi yang berketuhanan. Menurutnya, ini merupakan sebuah jalan menuju keselamatan di dunia dan akherat.

Dia menjelaskan, ekonomi berketuhanan tersebut diwujudkan dengan pembangunan ekonomi yang berlandaskan keabadian (hasanah economy).

Baca juga: Butuh Kontrol Secara Regulatif untuk Mengelola Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi