Industri Farmasi Kurangi Bahan Baku Impor

57
Dekan Fakultas Farmasi UGM Prof. Agung Endro Nugroho, Ph.D., Apt. menyatakan pihaknya akan terus melakukan pengambangan fakultas untuk menyongsong era revolusi industri 4.0. Foto: Humas UGM
Dekan Fakultas Farmasi UGM Prof. Agung Endro Nugroho, Ph.D., Apt. menyatakan pihaknya akan terus melakukan pengambangan fakultas untuk menyongsong era revolusi industri 4.0. Foto: Humas UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Di usia ke-73, Fakultas Farmasi UGM menghadapi tantangan revolusi industri 4.0.

Rektor UGM Prof. Ir. Panut Mulyono., M.Eng, D.Eng, berharap agar Fakultas Farmasi UGM bisa menjadi rujukan bagi fakultas-fakultas Farmasi lainnya.

Hal ini ia sampaikan dalam Rapat Senat Terbuka Dies Natalis ke-73 Fakultas Farmasi pada Rabu (2/10/2019).

Dalam sambutannya, Panut menyoroti industri obat-obatan dalam negeri.

Menurutnya kondisi perindustrian farmasi relatif lambat.

Baca juga: Cara Sederhana Agar Hasil Panen Kayu Berkualitas

Industri hilir masih tergantung pada produk setengah jadi dan bahan baku impor, sehingga sulit berkembang.

“Ketika kita menekan impor, hilirnya juga tertekan. Ini yang harus menjadi perhatian kita. Bagaimana caranya siklus industri utuh, dengan memanfaatkan bahan-bahan alami dalam negeri,” jelas Panut.

Hal ini, kata Panut, bisa menjadi umpan ke industri hilir supaya tidak tergantung lagi dengan bahan baku impor.

Senada dengan Panut, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI turut merespon era disrupsi dalam orasinya yang bertajuk Arah dan Pengembangan Farmasi Indonesia 4.0.

Inovasi dalam kesediaan produk farmasi dalam negeri, kata Engko, sejalan dengan program Making Farmasi Indonesia 4.0.

Baca juga: Cerita Bambang Purwoko Mendidik dan Tinggal Bersama Anak-anak Papua