Indonesia Siap Jadi Bagian Pembangunan Kawasan Afrika

13
Dubes Salman menyampaikan, saat ini Afrika merupakan prioritas utama diplomasi Indonesia, terutama di bidang investasi, perdagangan, dan people-to-people contact. Foto: KBRI Pretoria
Dubes Salman menyampaikan, saat ini Afrika merupakan prioritas utama diplomasi Indonesia, terutama di bidang investasi, perdagangan, dan people-to-people contact. Foto: KBRI Pretoria

KAGAMA.CO, BOTSWANA – Dubes RI untuk Afrika Selatan, merangkap Republik Botswana, Kerajaan Eswatini dan Kerajaan Lesotho, Salman Al Farisi  bertemu dengan Sekretaris Eksekutif Southern African Development Community (SADC), Dr. Stergomena Lawrence Tax, pada (10/10/2019) di kantor Sekretariat SADC di Gaborone, Botswana.

Dalam pertemuannya itu, Salman mengatakan, Indonesia siap menjadi bagian dari pembangunan di kawasan Afrika, khususnya di kawasan selatan Afrika.

Dia menyampaikan bahwa saat ini Afrika merupakan prioritas utama diplomasi Indonesia, terutama di bidang investasi, perdagangan, dan people-to-people contact.

Terkait hal tersebut, kata Salman, Pemerintah Indonesia siap untuk menjadi bagian dari pembangunan di kawasan selatan Afrika.

Salman menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia siap menjalin berbagai kerja sama di bidang infrastruktur, kereta api, dan kerja sama teknis dalam rangka peningkatan kapasitas.

Ini merupakan bentuk keseriusan Pemerintah Indonesia untuk menjadi mitra negara-negara di kawasan Afrika dalam pembangunan.

Sementara itu, Dr.Tax menyambut baik tawaran kerja sama tersebut.

Pertemuan Dubes Salman dengan Sekretaris Eksekutif Southern African Development Community (SADC), Dr. Stergomena Lawrence Tax. Foto: KBRI Pretoria
Pertemuan Dubes Salman dengan Sekretaris Eksekutif Southern African Development Community (SADC), Dr. Stergomena Lawrence Tax. Foto: KBRI Pretoria

Baca juga: Mahasiswa UGM Manfaatkan Tulang Kambing untuk Material Pengganti Tulang Rusak

Dia menyampaikan bahwa prioritas SADC saat ini adalah melakukan industrialisasi dan transformasi ekonomi.

Untuk mewujudkan itu, diperlukan adanya pembangunan infrastruktur, khususnya di sektor perkeretaapian untuk mempercepat distribusi barang-barang hasil produksi ke seluruh kawasan negara-negara anggota SADC, baik di Afrika maupun seluruh dunia.

Maraknya berbagai isu keamanan dan perdamaian di kawasan SADC, Dr. Tax berharap bisa menjalin kerja sama teknis dengan Indonesia, dengan berbagi ilmu dan pengalaman dalam menangani isu peredaran narkoba, human trafficking, terorisme, dan lainnya.

Ada pun kerja sama teknis lainnya yakni terkait peningkatan ekonomi masyarakat di kawasan SADC.

Dr, Tax ingin bekerja sama di bidang pemerintahan, aqua culturemicro credit finance, dan kerja sama teknis lainnya yang mendukung.

Dalam upaya mempererat hubungan dengan negara-negara anggota SADC, Indonesia sedang memproses keanggotaannya sebagai representative di SADC, sehingga diharapkan dapat berperan aktif dalam berbagai pertemuan yang diselenggarakan oleh SADC.

SADC dibentuk pada tanggal 17 Agustus 1992, yang beranggotakan 16 negara di antaranya Afrika Selatan, Angola, Botswana, Comoros, Republik Demokratik Kongo, Eswatini, Lesotho, Madagascar, Malawi, Mauritius, Mozambique, Namibia, Seychelles, Tanzania, Zambia, dan Zimbabwe.

Organisasi ini memiliki tujuan meningkatkan kemampuan ekonomi dan pembangunan negara-negara anggotanya. (Kinanthi)

Baca juga: Sektor Pendukung Harus Saling Terkoneksi untuk Majukan Pariwisata