Indonesia Milik Bersama

Dialog Kebangsaan Lintas Agama dan bertema Tantangan Agama dan Kebangsaan di Era Post Truth yang digelar Gerakan Suluh Bangsa di Auditorium KH. Ahmad Dahlan Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, menekankan peran tokoh agama untuk mengajak umat menjaga persatuan bangsa Indonesia. Foto : Josep/KAGAMA
Dialog Kebangsaan Lintas Agama dan bertema Tantangan Agama dan Kebangsaan di Era Post Truth yang digelar Gerakan Suluh Bangsa di Auditorium KH. Ahmad Dahlan Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, menekankan peran tokoh agama untuk mengajak umat menjaga persatuan bangsa Indonesia. Foto : Josep/KAGAMA

KAGAMA.CO, JAKARTA – Peran para ulama dan tokoh agama besar untuk menyampaikan pesan kesadaran menjaga Indonesia sebagai milik bersama. Saat ini hoax atau berita bohong yang beredar di jagad media sosial di Tanah Air berpotensi memecah belah persatuan serta harmonisasi kehidupan banga.

Parahnya, kebanyakan masyarakat di akar rumput tidak mampu menyaring hoax tersebut hingga menelannya bulat-bulat sebagai kebenaran. Dampak destruktif hoax kian besar karena ada oknum-oknum yang menggunakannya dengan dibalut narasi agama.

Pandangan itu disampaikan Prof. Mahfud MD  kala menjadi salah satu narasumber dalam acara Dialog Kebangsaan Lintas Agama dan bertema Tantangan Agama dan Kebangsaan di Era Post Truth yang digelar Gerakan Suluh Kebangsaan di Auditorium KH. Ahmad Dahlan Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (10/1/2019).

“Mereka sudah mengadu domba bangsa dengan narasi-narasi agama yang dangkal.  Indonesia bukan negara agama. Dulu, pendiri bangsa yang dimotori ulama besar dari Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah pernah ingin mendirikan Islam atau agama.”

“Namun, di sisi ada Bung Karno, tokoh nasional tapi juga seorang Muslim yang taat, justru ingin menjadikan Indonesia negara sekuler. Artinya, agama dipisahkan dari urusan negara. Namun lewat perdebatan panjang, akhirnya ada kompromi dan disepakati Indonesia sebagai Negara Pancasila,” ujar pria yang memperoleh gelar Doktor Hukum Tata Negara dari Universitas Gadjah Mada ini.

Oleh karena itu, menurut Prof Mahfud, di Indonesia punya Hukum Publik dan Hukum Privat. Semua pemeluk agama punya kedudukan yang setara dalam Hukum Publik, sedangkan dalam Hukum Private, tiap pemeluk dapat menjalankan ketentuan agamanya tanpa campur tangan negara. Misalnya, Muslim sembahyang di masjid, Kristen berdoa di gereja dan sebagainya.

Peran Tokoh Agama

“Inilah toleransi dalam pluralitas. Mayoritas tidak boleh menindas yang minoritas. Kita mesti menjaga Indonesia sebagai milik bersama. Oleh sebab itu, peran para tokoh-tokoh agama penting untuk menyampaikan pesan-pesan ini kepada para pengikutnya,” pungkas Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan ini.

Sementara Dr. H. Abdul Mu’ti mengungkapkan saat ini, fenomena matinya hati nurani yang menjadi pangkal kegaduhan di Tanah Air.

Matinya hati nurani membuat orang akan mematikan nalar kritisnya sehingga dia menilai hanya dirinya yang benar hingga menolak kebenaran lainhya, bahkan menolak kebenaran agama.

“Jadi peran ulama dan tokoh agama adalah membangkitkan kembali hati nurani umat sehingga nalar kritis mereka pun bangkit. “

“Teknologi hanya menjadi instrumen bagi manusia untuk mengaktualisasikan apa yang ada di pikiran mereka,” tutunya.

Selain Prof. Mahfud dan Dr. Abdul, Romo Benny Susetyo, juga menjadi narasumber dalam diskusi yang dimoderatori Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin.

Menurut rohaniwan Katolik itu, para tokoh agama mesti memimpin dan mengarahkan umatnya menjadi orang yang memiliki gagasan.

“Orang yang mempunyai gagasan berarti punya kewarasan dengan berbasiskan data, selektif, dan bisa dipertanggungjawabkan,” pungkas Romo Benny.

Gerakan Suluh Kebangsaan sendiri merupakan bentuk kepedulian untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),

Berbagai macam kegiatan akan dilakukan dalam Gerakan Suluh Kebangsaan ini, seperti sarasehan kebangsaan bersama para tokoh dan media lokal di berbagai provinsi, dialog kebangsaan bersama civitas akademika di kampus-kampus, jelajah kebangsaan dengan kereta api, serta berdialog bersama masyarakat sekitar. (ojos)