“Oleh karenanya, di tengah ketidakpastian dan tantangan yang semakin besar, merupakan hal yang mendesak bagi negara berkembang untuk secara proaktif mendiversifikasikan investasi, perdagangan dan pariwisata untuk menjauh dari Dollar AS dan beralih ke mata uang lain seperti Poundsterling, Euro, Yen, dan bahkan Renminbi,” paparnya.

Untuk mengatasi hal ini, kata dia, juga diperlukan solusi yang visionaris dan berani. Indonesia sebagai negara ke-4 dengan populasi terbesar di dunia yaitu 260 juta jiwa dan 60 persen penduduknya berusia di bawah 30 tahun, ekonomi terbesar ke-16 dengan GDP di atas 1 Trilyun, serta pertumbuhan ekonomi di atas 5%, Indonesia memiliki hubungan yang baik dengan Tiongkok.

Pada tanggal 8-11 September 2018, kegiatan China International Fair for Investment & Trade (CIFIT) 2018.(Foto: Dok. KBRI Beijing)
Pada tanggal 8-11 September 2018, kegiatan China International Fair for Investment & Trade (CIFIT) 2018. Foto: KBRI Beijing

Indonesia  juga siap mengembangkan kerjasama lebih jauh dengan Tiongkok dan berbagai negara di dunia untuk saling mendukung, mendukung kawasan dan dunia, serta mendukung sama lain.

“Hal ini mengingat Indonesia juga memiliki kesamaan prinsip yaitu mendukung multilateralisme dan sistem global yang berdasarkan pada peraturan yang ada,” imbuhnya.