Indonesia Butuh Figur Berpikiran Out of The Box Guna Tentukan Arah Pendidikan

95
Ekonom senior Faisal Basri berharap pada Mendikbud yang baru, Nadiem Makarim, tidak meniru cara-cara pemimpin yang tidak berani menentukan target. Foto : Taufiq Hakim/KAGAMA
Ekonom senior Faisal Basri berharap pada Mendikbud yang baru, Nadiem Makarim, tidak meniru cara-cara pemimpin yang tidak berani menentukan target. Foto : Taufiq Hakim/KAGAMA

KAGAMA.CO, DENPASAR – Indonesia dalam Global Innovation Index (GII) pada 2007 berada di peringkat 48, di tahun 2017 di peringkat 87, bukan sekadar rendah tetapi sangat turun.

Hal ini disampaikan oleh Ekonom Faisal Basri, dalam Seminar Pra Munas Kagama, yang mengusung tema Kesiapan SDM Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0 Menuju Indonesia Maju, dengan sub topik Road Map Pembangunan SDM Indonesia di Hotel Grand Inna Bali Beach, Denpasar, Bali, Kamis (14/11/2019).

Selain peringkat, ada lagi skor yang diperoleh Indonesia dalam GII pada 2013 yaitu, 31,95.

Sedangkan pada 2017 memperoleh skor 30,10. Belum lagi, dengan kemampuan baca dan matematika siswa yang masih rendah.

Baca juga: Pembangunan SDM Indonesia Harus Punya Target dan Arah yang Jelas

Faisal mengatakan, kemampuan literasi yang rendah membuat dia pesimis masyarakat bisa menyaring dan mengolah informasi di era digital ini.

Ada lagi terkait tujuan pendidikan yang menurut Faisal abstrak dan tidak jelas arahnya.

“Indonesia nggak berani menetapkan target dan tujuan pendidikan yang jelas.”

“Tujuan atau UU boleh ada, tetapi dalam lima tahun itu, pemerintah harus lebih jelas targetnya,” tuturnya.

Di samping target yang tidak jelas, rencana pengembangan pendidikan dinilai kurang tepat, karena mendahulukan digelontorkannya anggaran.

“Biasanya pemerintah gelontorkan anggaran sekian triliun, misalnya anggaran Rp500 triliun tapi nggak jelas targetnya.”

“Tidak ada target peningkatan kemampuan literasi baca, literasi sains, dan kemampuan matematika di skor atau peringkat tertentu tidak berani,” ungkap Faisal.

Baca juga: Upaya Membangun SDM Indonesia Maju Perlu Diimbangi dengan Kearifan Lokal

Untuk itu, dirinya mengajak orang-orang yang peduli terhadap persoalan ini untuk membuat roadmap.

Misalnya, target mencapai rerata ASEAN dalam sepuluh tahun ke depan, termasuk rerata untuk kemampuan matematika, literasi membaca, dan literasi sains, lalu ditambah problem solving.

“Lalu kita potret input pendidikannya, termasuk sekolahnya, gurunya, kompetensi guru, laboratoriumnya.”

“Dari sini, kita bisa tahu kebutuhan kita apa, dari targetnya diperlukan kualitas guru dengan standar tertentu, pengembangan laboraturium yang sedemikian rupa, dan sebagainya,” ujar Faisal.

Dia berpandangan, menetapkan anggaran dana di awal menjadi tahapan yang salah.

Lebih baik jika memetakan dulu kebutuhan dan persoalan yang terjadi, barulah membuat anggaran untuk mengatasinya.

Faisal turut berbangga dengan kehadiran anak-anak muda seperti CEO Ruangguru, Adamas Belva Syah Devara yang mampu berpikir secara inovatif dan kreatif, dalam mencari solusi untuk masalah pembangunan SDM.

“Saya yakin orang-orang Ruangguru memiliki cara berpikir yang berbeda dan terarah.”

“Saya berharap pada Mendikbud yang baru, Nadiem Makarim tidak meniru cara-cara pemimpin yang tidak berani menentukan target.”

“Kita butuh orang yang berpikirnya out of the box,” kata ekonom senior itu.

Sebelumnya Belva bercerita tentang masa-masa awal dia membangun aplikasi belajar digital Ruangguru.

Dirinya berpendapat bahwa revolusi pendidikan tidak akan terwujud tanpa teknologi.

Kenyataan yang dihadapi menunjukkan, banyak anak pintar, tetapi tidak memiliki kesempatan yang sama untuk menerima pendidikan yang layak.

Belva bersama timnya, ingin mewujudkan pendidikan yang merata di Indonesia.

Kini Ruangguru telah memiliki 15 juta siswa dan 200 ribu guru yang terdaftar, serta aplikasinya telah diunduh 10 juta orang lebih.

“Dengan pengembangan pendidikan melalui teknologi, anak tinggal di mana saja dengan status ekonomi apapun bisa mendapatkan kesempatan yang sama,” pungkas Faisal.

Selain dua pembicara di atas, tiga pembicara lainnya turut memberikan sumbangan gagasan di antaranya Rektor UGM, Prof.Ir.Panut Mulyono, M.Eng, D.Eng., Rektor Universitas Udayana Prof.Dr.dr Raka Sudewi, SpS (K), dan Ekonom Core Indonesia Hendri Saparini. (Kinanthi)