Image Petani Harus Diubah Untuk Dorong Regenerasi Petani

111
Guru besar Departemen Sosial Ekonomi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Sunarru Samsi Hariadi, M.S, punya ide untuk mengubah wajah pertanian masa depan. Foto: Ist
Guru besar Departemen Sosial Ekonomi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Sunarru Samsi Hariadi, M.S, punya ide untuk mengubah wajah pertanian masa depan. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Pemuda memiliki peran penting dalam membangun pertanian.

Guru besar Departemen Sosial Ekonomi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Sunarru Samsi Hariadi, M.S, mengatakan, sebagian besar wilayah Indonesia adalah lahan pertanian yang belum optimal berkembang.

“Sampai saat ini, Indonesia masih disebut sebagai negara agraris. Pemuda termasuk mahasiswa berperan penting dalam pembangunan.”

“Karena mereka memiliki intelektualitas, inovasi, semangat kerja yang tinggi. Generasi muda kerap disebut sebagai pelopor pembangunan,” ujarnya belum lama ini.

Problem regenerasi petani, kata Sunarru, sangat krusial sekaligus mengkhawatirkan jika tidak ditangani dengan benar.

Dia mengungkapkan bahwa angkatan kerja di bidang pertanian menurun.

Mengutip data BPS tahun 2014, Sunarru mengatakan jumlahnya menurun hingga 34 persen.

Baca juga: KAGAMA Sulbar Gotong Royong Galang Donasi untuk Korban Gempa Bumi di Mamuju dan Majene

Pada 2017, menurun 31,9 persen. Lalu tahun 2019 menurun lagi sebanyak 29,5 persen.

“Sebagian besar petani di Indonesia berpendidikan rendah, dengan pendidikan terakhir tingkat SD.”

“Hal ini menjadi perhatian kita dalam mengembangkan SDM di bidang pertanian,” jelas alumnus jurusan Sosial Ekonomi Pertanian UGM angkatan 1975 ini.

Dalam kurun waktu 10 tahun, dari 2003-2013, jumlah rumah tangga petani berkurang sebanyak 5 juta.

Sementara dalam kurun waktu 4 tahun dari 2010-2014, jumlah tenaga pertanian berkurang sebanyak 3 juta.

Kemudian dalam kurun waktu 1 tahun dari 2017-2018, tenaga kerja petani muda berkurang 415.789.

Artinya, jumlah petani menurun sekitar 700.000 per tahun. Jika jumlah petani Indonesia saat ini sebesar 33,4 juta orang dan menurun jumlahnya setiap tahun dengan kisaran 500.000 orang, maka pada tahun 2045 jumlah petani kemungkinan tersisa sekitar 20 juta orang.

Baca juga: Warga KAGAMA Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di Tanah Air