KAGAMA.CO, JAKARTA – Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) Tahun 2018 resmi dibuka oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir. Kali ini, kegiatan tahunan yang sudah diinisiasi Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptekdikti Ali Ghufron Mukti sejak tahun 2016 itu diikuti oleh 47 ilmuwan diaspora yang telah sukses meniti karier di perguruan tinggi terbaik di luar negeri.

Selama sepekan di Tanah Air, para ilmuwan diaspora akan dipertemukan dengan akademisi dalam negeri dari berbagai perguruan tinggi. Mereka diwajibkan untuk menghasilkan output, baik berupa publikasi ilmiah, kerja sama riset, ‘workshop dan coaching’, serta kolaborasi lainnya yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa.

Ilmuwan Diaspora Berkumpul, Rumuskan Pembangunan SDM Indonesia.(Foto: Dok. Ali Ghufron Mukti)
Ilmuwan Diaspora Berkumpul, Rumuskan Pembangunan SDM Indonesia.(Foto: Dok. Ali Ghufron Mukti)

Menristekdikti mengungkapkan, keberadaan para ilmuwan diaspora dapat menjadi pengungkit bagi pengembangan ilmu pengetahuan teknologi di Indonesia. Pasalnya, mereka yang diundang merupakan anak bangsa yang memiliki kompetensi mumpuni di bidangnya.

Dari 47 orang diaspora, lima orang merupakan ‘assistant professor’, 13 orang merupakan ‘associate professor’, 12 orang merupakan ‘full professor’. Sedangkan sisanya merupakan dosen senior yang berperan sebagai ‘academic leader’, seperti dekan dan kepala pusat riset.