Ilmu Biologi Menunjang Karier Sumirat dalam Pemberantasan Narkoba

121
Kepala BNN Provinsi Sulawesi Barat alumnus UGM, Brigjen. Pol. Sumirat Dwiyanto, M.Si, menceritakan pengalaman kariernya dalam memberantas narkoba. Foto: Republika
Kepala BNN Provinsi Sulawesi Barat alumnus UGM, Brigjen. Pol. Sumirat Dwiyanto, M.Si, menceritakan pengalaman kariernya dalam memberantas narkoba. Foto: Republika

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Masalah penyalahgunaan narkoba bisa dikatakan sudah darurat, seperti yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu.

Kepala BNN Provinsi Sulawesi Barat, Brigjen. Pol. Sumirat Dwiyanto, M.Si, mengatakan, jumlah pecandu diperkirakan 3,5-5 juta. Sebagian di antaranya merupakan multidrugs user.

“Artinya mereka menggunakan narkotika jenis apapun, bahkan menggunakan obat-obatan terlarang yang cukup keras.”

“Narkotika dihasilkan tanaman dan psikotropika dari bahan-bahan kimia. Akademisi dan alumnus (Biologi) sebetulnya punya banyak peran dalam menyelesaikan masalah ini,” ujarnya.

Hal tersebut Sumirat sampaikan dalam diskusi BioTalk, bertajuk Peran dan Kontribusi Biologi dalam Menghadapi Kejahatan Narkoba, yang digelar oleh Fakultas Biologi UGM beberapa waktu lalu secara daring.

Baca juga: Ganjar Pranowo Bantu Jualan Online UMKM, Pedagang Batik Naik Omzetnya 350 Persen

Kesempatan tersebut berusaha dimanfaatkan oleh Sumirat melalui pekerjaannya. Alumnus Fakultas Biologi UGM itu mengawali kariernya di Pusat Kedokteran dan Kesehatan POLRI, sebagai Perwira Unit Pengamanan Medik.

Ketika itu, Sumirat ditugaskan memberikan pelayanan keamanan kepada tamu-tamu negara asing yang datang ke Indonesia untuk urusan tertentu dengan kepolisian Indonesia.

Salah satu tugasnya adalah mengawasi keamanan konsumsi bagi para tamu.

Sumirat bersama tim mengawasi dengan detail kandungan makanan secara biologis, utamanya memastikan tidak adanya kandungan alkaloid pada makanan tersebut.

Delapan tahun kemudian, pria kelahiran 19767 itu ditugaskan di Departemen Kedokteran dan Kesehatan di bagian penanganan lingkungan hidup.

Baca juga: Langkah PT Pembangkitan Jawa-Bali untuk Bisa Bertahan di Era Disruptif