Pak Sut—panggilan akrabnya—lahir dari keluarga seniman tulen. Ayahnya seorang dramawan sekaligus pemusik, sedang eyangnya pemahat patung. Berkesenian pun menjadi bagian sehari-harinya sejak kecil.

Ia mulai tergoda dengan seni musik sejak mengenyam pendidikan di Holandsche Indische Kweekschool (HIK)—sekolah pendidikan guru waktu itu. Bakatnya di seni musik begitu menonjol di sekolah. Saat digelar ujian musik, tak satupun temannya yang meraih angka baik. Hanya Suthasoma yang meraih angka di atas rata-ata. “Malah melebihi gurunya sendiri,” tulis Upik.

Suthasoma bersama keluarga 2 (ditampilkan dalam konser mengenang Suthasoma, youtube.com)
Suthasoma bersama keluarga 2 (ditampilkan dalam konser mengenang Suthasoma, youtube.com)

Pak Sut kemudian melanjutkan kuliah di UGM. Awalnya ia mengikuti arahan ayahnya untuk kuliah di Fakultas Hukum. Namun, ia hanya menjalani permintaan ayahnya itu sampai sarjana muda saja. Tanpa memberi tahu sang ayah, ia ternyata hijrah ke Fakultas Pedagogik dan Filsafat. Hingga ia diwisuda tahun 1962.

Setelah lulus ia baru melapor kepada ayahnya. Tak ada drama terjadi, ayahnya menerima keputusan anaknya untuk tidak jadi sarjana hukum. Pak Sut mulai berkarier di dunia musik pascalulus.