Hubungan Indonesia-Rusia Makin Baik, Mie Instan Buatan Indonesia Sudah Dijual di Rusia

114
Duta Besar Republik Indonesia untuk Rusia dan Belarus jebolan UGM, Mohamad Wahid Supriyadi, membeberkan kondisi ekonomi Rusia di tengah pandemi corona. Foto: Detik
Duta Besar Republik Indonesia untuk Rusia dan Belarus jebolan UGM, Mohamad Wahid Supriyadi, membeberkan kondisi ekonomi Rusia di tengah pandemi corona. Foto: Detik

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Duta Besar Republik Indonesia untuk Rusia dan Belarus, Mohamad Wahid Supriyadi, membeberkan kondisi ekonomi Rusia di tengah pandemi corona.

Menurutnya ada dua faktor yang memengaruhi ekonomi negeri Beruang Merah ini kala pandemi virus corona, antara lain pandemi itu sendiri dan harga minyak.

Dubes Wahid menjelaskan, Rusia kini berada di peringkat ketiga dunia untuk kasus corona, di bawah Amerika Serikat dan Brasil, dengan total warga terinfeksi mencapai 614 ribu jiwa.

Kendati demikian, tingkat kematian penduduk akibat pandemi virus corona di Rusia hanya mencapai 1,4 persen atau 8605 jiwa, sehingga tergolong rendah.

Selain itu, ada 8, 52 persen atau 18 juta jiwa yang mengikuti tes, dan 61,1 persen atau 375 ribu jiwa dinyatakan pulih.

Baca juga: Perkebunan Sawit, Industri yang Tak Goyah Meski Pandemi Corona Berlangsung

“Rusia turut aktif mengirimkan paket medis ke negara-negara terdampak, seperti Italia dan Indonesia,” ujar Dubes Wahid dalam Webinar Internasional bertajuk Breakthrough against COVID-19: Diplomacy and Bilateral Collaboration in Dealing with Global Crisis beberapa waktu lalu.

Alumnus Program Studi Sastra Inggris ini berbicara pada sesi Global Domination: Energy, Economy, and E-Industry yang diadakan oleh Pusat Kajian dan Gerakan Strategis PPI Dunia dalam rangka “Ambassadors and Young Leaders Week” pada tanggal 25 Juni 2020.

“Setelah tiga bulan diserang pandemi, banyak yang memprediksi ekonomi Rusia turun hingga -5,5 persen dan sebagian pesimis ke -10 persen dibanding pertumbuhan sebelumnya, yakni 1,2 persen,” ujar Dubes Wahid.

“Jumlah pengangguran kini naik menjadi 10-15 persen dan berkait erat dengan bidang pariwisata.”

“Selain itu, pandemi yang marak terjadi di negara importir migas dari Rusia seperti negara Eropa dan Tiongkok menyebabkan  ekspor Rusia menurun, padahal 60 persen dari ekspor dan 4o persen GDP Rusia datang dari migas,” imbuh Pria asal Kebumen, Jawa Tengah ini.

Baca juga: Dr. Sukarti Berpulang, Guru Terbaik Fakultas Psikologi UGM yang Humoris dan Lembah Manah