Hobi Menulis Buku Antologi di Luar Kesibukan Mengajar

89
Saat merampungkan studi doktoral di Jepang, Kaprodi S1 Agronomi UGM Dr. Rani Agustina Wulandari, S.P, M.P. mengalami masa-masa sulit berada jauh dari keluarga. Dia melampiaskan rindu dengan menulis buku. Foto: Kinanthi
Saat merampungkan studi doktoral di Jepang, Kaprodi S1 Agronomi UGM Dr. Rani Agustina Wulandari, S.P, M.P. mengalami masa-masa sulit berada jauh dari keluarga. Dia melampiaskan rindu dengan menulis buku. Foto: Kinanthi

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Keluarga Dr. Rani Agustina Wulandari, S.P, M.P., (42) dikenal sebagai keluarga petani.

Diceritakan oleh Rani, kakeknya mempunyai sawah.

Ibunya sering kerja derep (memanen padi dengan alat tradisional ani-ani).

Bertani menjadi sumber penghasilan bagi keluarganya.

Bahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan pun, Rani dan keluarganya tak perlu membeli.

“Kakek Saya dulu Kadus, punya tanah terus ditanami padi. Kalau pas panen itu, padinya sampai ke ‘langit-langit’. Minimal bisa memenuhi kebutuhan sendiri, misalnya untuk nasi. Nah, dari situ Saya terinspirasi untuk ambil kuliah pertanian,” ujar Rani kepada KAGAMA, belum lama ini.

Kebun Teh yang Berkesan

Alumnus Departemen Pemuliaan Tanaman UGM itu mengenang masa kuliahnya yang menyenangkan sekaligus menantang.

Ketika itu dia dan teman-teman seangkatannya mengikuti kuliah pengkajian lapangan Agronomi.

Sebanyak 7 judul buku antologi yang sudah ditulis Rani bersama kawan-kawannya sejak 2010 hingga 2017. Foto: Kinanthi
Sebanyak 7 judul buku antologi yang sudah ditulis Rani bersama kawan-kawannya sejak 2010 hingga 2017. Foto: Kinanthi

Baca juga: Fakultas Biologi UGM dan PT Sinde Budi Sentosa Kembangkan Kebun Buah Tropis

Kuliah itu dilaksanakan di PT Pagilaran.

Rani dan teman-temannya ditempatkan di Andung Sili yang berada di ketinggian 1.200 di permukaan laut.

Air di sana dingin sekali, sementara Rani tak begitu tahan dengan dingin.

Meskipun demikian, cuaca dingin yang membuatnya tak nyaman itu terbayar dengan pemandangan indah kebun teh yang kira-kira seluas 100 ha.

Rani mengaku belum pernah mengunjungi kebun yang sedemikian luasnya.

“Di sana nggak hanya kebun saja, ada tempat pengolahan hasil kebunnya. Belajar banyak kami di sana. Menurut Saya ini pengalaman berkesan selama kuliah,” ujarnya.

Demikian juga dengan teman-teman seangkatannya dulu, mahasiswa Pemuliaan Tanaman angkatan 1995 masih solid hingga saat ini.

Sebagian di antaranya masih menyempatkan diri untuk berkumpul, termasuk Rani.

Baca juga: Cara Sederhana Agar Hasil Panen Kayu Berkualitas