KOLOM – R. TOTO SUGIHARTO

[ilustrasi–sumber : tembisan.co.za]

“HOAX are you…?” Boleh jadi sapaan pelesetan itu akan menjadi kosakata baru di zaman now, memarodikan sapaan aslinya yang penuh ketulusan: “How are you?”

Ya. Hoax atau berita bohong sudah merebak di dunia maya. Dalam beberapa kasus, hoax diproduksi dengan materi foto faktual tapi kemudian disisipkan ke dalam informasi, baik peristiwa maupun konteksnya, berbeda. Alhasil, sama saja informasi tersebut hoax. Atau, banyak juga yang memang sudah hoax dari materi bakunya. Misalnya, isu yang sengaja dikemas dan dilontarkan secara masif dan intensif sehingga publik menjadi yakin isu tersebut benar.

Baru saja Mas Sastro menerima foto dan video plus caption tentang gempa di Banten yang terjadi pada Selasa (23/1/2018) antara pukul 13.34 – 13.35 WIB. Padahal, dua hari sebelum terjadi gempa di Banten, Mas Sastro sudah menerima foto yang sama, yang menggambarkan keadaan bagian badan jalan raya retak-retak di kawasan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Satu lagi, video yang merekam beberapa truk bergoyang-goyang terguncang hingga nyaris terguling sebagai akibat getaran gempa di Banten. Padahal, setelah dicek silang di internet, foto truk itu ternyata kejadian di atas kapal di penyeberangan Gilimanuk, Bali. Sayangnya, video itu sudah terlanjur ditayang berulang kali di Metro TV yang juga disaksikan Mas Sastro.

Pada esok harinya, Metro TV menyiarkan berita lanjutan, terutama informasi resmi dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) yang mengklarifikasi hoax, antara lain menyebutkan akan terjadi gempa susulan berskala 7,9 skala Richter dan si hoaxer mencatut logo resmi BMKG, Metro TV juga mengimbau masyarakat mewaspadai hoax dan tidak menyebarkannya. Sebaliknya, Metro TV tidak meralat hoax yang disiarkan sehari sebelumnya.

Spontan Mas Sastro merespons kiriman foto dan video di Whats App Group (WAG) dengan komentar berikut, Foto itu sudah saya terima sebelum ada gempa di Banten.

“Jadi, maunya si penebar hoax, dengan melengkapinya melalui foto dan video diharapkan memerkuat penerima pesan sebagai fakta. Begitu, kan, Den Sastro?” tanya Om Harjo retoris.

Meski pertanyaan Om Harjo retoris, dijawab juga oleh Mas Sastro, “Betul. Kan ada ungkapan no pict is hoax. Informasi tanpa foto adalah hoax.

“Tapi, kira-kira motifnya apa ya?” kejar Om Harjo.

“Bisa jadi macam-macam. Mungkin iseng saja. Cari perhatian. Atau, ada target tertentu. Yang ini biasanya karena kepentingan politik, kepentingan kelompoknya.”

“Nah, makanya, Den. Ide sampean untuk workshop literasi media segera saja. Bikin proposal. Tujuannya, kan, jelas. Mendidik masyarakat di tingkat desa menjadi paham mana berita yang benar, mana yang bohong,” kejar Om Harjo.

Mas Sastro mesem, “Yang patut disayangkan juga, yang terlibat aktif dalam industri hoax justru dari kalangan menengah dan terdidik. Bahkan, ndak sedikit juga dari akademisi, yang mungkin juga setara derajat Begawan,” cetus Mas Sastro.

“Nah, tuh. Sampai segitunya, kan?” timpal Om Harjo dengan motif tersirat mendesak Mas Sastro menyelesaikan proposalnya .

Hoax memang sudah merajalela. Semakin canggih piranti teknologinya, semakin canggih pula produk hoax-nya. Di Amerika misalnya, justru banyak aktor negara terlibat dalam manipulasi informasi, antara lain dengan memekerjakan komentator palsu yang disetting.

Dari informasi yang diikuti Mas Sastro di internet, di Indonesia hingga saat ini tercatat ada sekitar 43 ribu sumber berita digital. Sebagian di antaranya ikut menyebarkan berita palsu. Ironisnya, semakin banyak orang yang mengakses internet, semakin memudahkan berita palsu tersebar, baik melalui media sosial (medsos), seperti akun facebook ataupun pesan singkat WA.

“Kuncinya tetap di tangan kita. Caranya, kenali hoax dengan kros cek berita yang biasanya provokatif, link sumber situs, identitas penulis, dan keaslian foto. Sebab, sekali jari tangan meng-klik membagikan hoax, maka berita palsu akan terus melaju tidak terkendali lagi.

“Sekarang masalahnya kalau kita disapa dengan sapaan parodi, “Hoax are you?” kita akan jawab bagaimana?” pancing Om Harjo.

I am not fine,” balas Mas Sastro, “Karena, hoax membuat kita tidak nyaman,” tandasnya. []