Hidup Ditolong Allah

107
Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Khalawi Abdul Hamid meraih sukses berkat perjuangan dan kerja keras. Foto : Fajar/KAGAMA
Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Khalawi Abdul Hamid meraih sukses berkat perjuangan dan kerja keras. Foto : Fajar/KAGAMA

KAGAMA.CO, JAKARTA – Jalan hidup Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Khalawi Abdul Hamid bak sinetron.

Sebuah kisah perjuangan serta kerja keras anak piatu dari desa mewujudkan impiannya kuliah di Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada dan kini dia jadi pejabat tinggi di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Lewat perbincangan yang hangat dan akrab, Khalawi menuturkan perjalanan hidup dan kariernya.

“Saat duduk di kelas dua Sekolah Dasar, saya kehilangan ibu.”

“Kenangan akan Ibu yang sangat membekas adalah pesan beliau pada saya, nak, kamu mesti jadi orang yang berguna bagi sesama dan negara,” tutur Khalawi kala ditemui KAGAMA di ruang kerjanya, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini tinggal di lingkungan keluarga Nahdliyin dan ayahnya berharap kelak dia jadi seorang guru atau kyai.

Namun Khalawi sudah menetapkan cita-citanya sendiri, dia mau kuliah di Universitas Gadjah Mada.

Saat tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP), dia mengambil keputusan berani, secara diam-diam tanpa sepengetahuan ayahnya, pergi meninggalkan rumahnya di Desa Moga, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Khalawi merantau untuk melanjutkan studi di Sekolah Menengah Atas (SMA) di Yogyakarta.

Setelah sampai di Yogyakarta, ayahnya baru diberitahu oleh sang paman.

Khalawi diterima dan menjadi siswa di SMA Muhi Jogja.

“Selain belajar di sekolah umum, saya pun menjadi santri di Pesantren Al Munawir, Krapyak.”

“Sempat masalah juga waktu itu, saya besar di lingkungan NU tapi sekolahnya di Muhammadiyah,” ujar pria kelahiran 1963 itu.

Akibat pilihannya itu, dia sempat tak ditegur sapa oleh para pemuka agama di kampungnya.

“Itulah kondisi masyarakat pada masa itu, tapi saya bertekad ingin jadi contoh bagi generasi muda di kampung.”

Kala di kampung saya, anak-anak setelah tamat SMP biasanya langsung dimasukkan orangtuanya ke pesantren,” papar Khalawi.

Lulus SMA Muhi Jogja, Khalawi ikut tes masuk ke UGM pada tahun 1983.

“Sebelum tes masuk, saya sudah kreatif menciptakan rumus sendiri dari soal-soal 10 tahun ke belakang yang saya kumpulkan.”

“Saya belajar dengan memakai penerangan lampu sentir,” kenangnya.

Khalawi sangat bersyukur sebab diterima dan cita-citanya kuliah di Teknik Sipil UGM terwujud.

Semasa menjadi mahasiswa, dia mesti berjuang mengatasi keterbatasan finansial yang dihadapinya.

Saat memasuki Semester V, usaha ayah Khalawi bangkrut karena ditipu rekan bisnisnya.

Akibatnya, sang ayah sudah tak mampu untuk membiayai kuliahnya.

“Lewat suratnya, ayah minta saya pulang ke kampung, saya pun menulis surat balasan pada ayah.”

“Saya tulis, meski harus mengayuh becak, saya akan selesaikan kuliah.”

“Saya sudah bertekad mewujudkan cita-cita sekaligus amanah dari Ibu saya,” kata Khalawi.

Demi menyambung hidup dan membiayai kuliahnya, Khalawi mengajar les privat di beberapa tempat di seputar kota Yogyakarta.

“Biasanya saya berangkat kuliah jam enam pagi dari rumah, lalu kuliah sampai jam satu siang.”

“Selepas itu, saya langsung memberikan les privat di beberapa tempat.”

“Saya tak punya sepeda motor, jadi saya harus mengayuh sepeda ontel mengitari kota Yogyakarta,” paparnya.

Selain memberi les privat, ia menyambi kerja di sebuah perusahaan kontraktor.

Akibat kesibukannya bekerja di proyek, nilai kuliahnya jadi turun dan ia kerap bolos kuliah.

“Ini contoh yang tidak bagus, tapi saya terpaksa bekerja karena keadaan.”

“Tiap semester saya bisa lulus, tapi nilainya tidak memuaskan,” sebut ayah tiga orang putra ini.

Bangun Pesisir Selatan

Setelah melalui proses yang panjang dan jatuh bangun, Khalawi dapat menyelesaikan kuliahnya di tahun 1989.

Ia melamar kerja di beberapa perusahaan dan diterima, tapi dia memutuskan bergabung di Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (dulu Departemen Pekerjaan Umum).

Lantas ia ikut Program Persiapan Otonomi Daerah dan ditempatkan di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Tugas pertamanya adalah membangun stadion yang akan digunakan untuk acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Daerah dan dia sukses menunaikan tugas tersebut.

Setelah itu selama 13 tahun, Khalawi dipercaya sebagai pimpinan proyek dan menangani pembangunan berbagai infrastruktur di Painan.

Belum lama Khalawi mendapat penghargaan dan diakui sebagai Putra Minangkabau dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pesisir Selatan atas jasanya membangun daerah tersebut.

Berkat prestasi kerjanya maka karier Khalawi terus menanjak hingga ia menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pesisir Selatan.

Di tahun 2005, Khalawi ditarik Gubernur untuk menjadi Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sumatera Barat.

Tahun 2007, ia dipindahkan ke Jakarta dan menempati berbagai posisi.

Di tahun 2014, Khalawi menduduki jabatan Deputi Perumahan Formal Kementerian Perumahan Rakyat.

Tahun 2015, tatkala Kementerian PU dan Kementerian Perumahan Rakyat dilebur menjadi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, ia ditunjuk menjadi Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Industri dan Lingkungan.

Tak lama, dia ditunjuk oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono sebagai Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan.

“Saya tak pernah menyangka bisa jadi Dirjen.”

“Saya pun tak pernah mengejar jabatan, tapi saya merasa hidup saya murni ditolong Allah.”

“Semua duka akhirnya menjadi sukacita.”

“Bila niat dipasrahkan kepada Allah dan kita kerjakan lewat perjuangan serta kerja keras maka niat itu pasti dapat terwujud,” pungkas Khalawi menutup kisahnya. (Jos)