Kolonel Soeharto membawahi daerah Yogyakarta. Ia meminta Pak Jo untuk  memasang bom di jembatan kereta api Sungai Progo.

Lebih dari itu, Pak Jo juga beperan dalam distribusi bom ke daerah Jakarta. Nahasnya, menurut buku “Perdjuangan Univeritas Gadjah Mda dan Universitas Lainnya dalam Perjuangan Fisik”, salah satu anak buah yang dikirim oleh Pak Jo untuk mengirim bom ke daerah Klender Jakarta nyaris dibunuh oleh pejuang Indonesia. Pasalnya, kurir tersebut membawa paket atas nama Herman Johannes.

Para pejuang kala itu mengira dengan mengatasnamakan Herman Johannes, sang pengirim bom adalah orang eks anggota KNIL yang berasal dari Ambon dan cenderung pro-Belanda. Maklum nama Herman Johannes memang sering dipakai oleh orang-orang Ambon. Untungnya, setelah dijelaskan siapa Herman Johannes yang sesungguhnya, para pejuang mengurungkan niat untuk membunuh si kurir.

Kontribusi Pak Jo dalam mempertahankan kemerdakaan Indonesia di era revolusi tak berhenti sampai di situ. Ia  juga ikut serta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, yakni serangan kilat yang menyerbu Kota Yogyakarta di pagi buta dan bisa menduduki ibu kota Republik selama enam jam.

Atas jasa-jasanya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahi Pak Jo  sebagai Pahlawan Nasional pada 2009 lalu.(Venda)