KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Bupati Kulon Progo dr. Hasto Wardoyo mengaku sempat kesulitan menanamkan ideologi bagi warga miskin di Kulon Progo.

“Saya selalu diperingatkan untuk tidak menanamkan ideologi pada ‘perut yang lapar’, tetapi kemudian tetap mampu menanamkan ideologi yang menghasilkan ‘sepotong roti’ untuk ‘perut yang lapar’,” ungkap Hasto.

Hal tersebut disampaikan dalam Seminar dan Peluncuran Buku Integrasi antar Lembaga dalam Percepatan Pengembangan Ekonomi Kawasan Perdesaan di Auditorium Mubyarto Magister Ekonomika Pembangunan UGM, pada Rabu (30/01/2019).

Hasto memberikan contoh dengan pengalamannya ketika meracik obat di Korea Selatan. Hasto mengaku dimarahi karena meracik obat buatan Jepang, padahal Korea Selatan tengah berusaha mandiri untuk memproduksi obat buatan negaranya sendiri.

Seminar dan Peluncuran Buku Integrasi antar Lembaga dalam Percepatan Pengembangan Ekonomi Kawasan Perdesaan.(Foto: Tita)
Seminar dan Peluncuran Buku Integrasi antar Lembaga dalam Percepatan Pengembangan Ekonomi Kawasan Perdesaan.(Foto: Tita)

Melalui pengalaman itulah, Hasto menganggap bahwa ideologi penting untuk memajukan Kulon Progo dengan menanamkan rasa bangga menggunakan produk buatan daerahnya sendiri.

Kulon Progo memulai dengan pengelolaan air mineral dengan merk Airku, toko milik rakyat (tomira), dan e-warung. Alumnus Fakultas Kedokteran uGM tersebut mengungkapkan bahwa di era disrupsi seperti sekarang ini pihak yang diuntungkan masih para kapitalis, sedangkan masyarakat belum dapat menikmatinya.

Oleh karena itu, kata Hasto, saat ini perputaran uang diupayakan agar dapat berjalan di Kulon Progo, bukan bisnis kapital seperti toko waralaba.

“Upaya memajukan daerah penting dilakukan oleh pemerintah dan rakyat, tetapi pihak ketiga seperti perguruan tinggi juga turut serta menyumbangkan pengetahuan yang berguna bagi daerah,” pungkasnya.(Tita)