Hal yang harus Dilakukan untuk Menghilangkan Konstruksi Gender di Tubuh TNI

29
Dosen UPN alumnus UGM, Assoc. Prof. Edwi Arief Sosiawan, menilai bahwa pelibatan perempuan di dunia TNI masih langka. Foto: Dok Pri
Dosen UPN alumnus UGM, Assoc. Prof. Edwi Arief Sosiawan, menilai bahwa pelibatan perempuan di dunia TNI masih langka. Foto: Dok Pri

KAGAMA.CO, JOGJA – Keterlibatan perempuan dalam pertahanan negara (militer) sudah ada sejak zaman kolonial.

Begitu seperti dinyatakan Assoc. Prof. Edwi Arief Sosiawan, Koorprodi Magister Ilmu Komputer UPN Yogyakarta.

Menurut Edwi, sejarah mencatat peran perempuan dalam melawan kolonialisme lebih sulit dipatahkan penjajah.

“Salah satunya adalah Tjut Nyak Dien dari Aceh,” kata Edwi, dalam Kedaulatan Rakyat, Senin (5/10/2020).

“Pada sisi lain, para perempuan perkasa tersebut juga mampu menduduki posisi penting dalam jabatan militer kala itu. Yaitu Laksamana Malahayati,” jelasnya, yang memperingati hari jadi ke-75 Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Baca juga: Kewirausahaan Desa Harus Mendunia Demi Gerakan Ekonomi yang Berkelanjutan

Untuk diketahui, Laksamana Malahayati adalah perempuan pejuang dari Kesultanan Aceh yang hidup antara 1550-1615.

Edwi melanjutkan, zaman perjuangan kemerdekaan perempuan juga terekam melalui aksi Laskar Wanita Indonesia (LASWI).

Aksi yang dilakukan LASWI antara lain menyetir ambulans, mengobati tentara sakit, membuat dapur umum, hingga mendistribusikan senjata dan informasi.

Setelah 15 tahun beraksi sejak 1945, para perempuan akhirnya punya institusi resmi.

Yakni korps TNI yang disebut Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat), Kowal (Korps Wanita Angkatan Laut), dan Wara (Wanita Angkatan Udara), termasuk Polwan (Polisi Wanita).

Baca juga: Mimpi Besar Aktivis KAGAMA Gelanggang Demi Sejahterakan Petani Lokal