YOGYAKARTA, KAGAMA – Ketoprak Lesung dengan lakon Tumenggung Wiroguno tentang kepahlawan Tumenggung Wiroguno yang merupakan cikal bakal berdirinya Kalurahan Wirogunan Yogyakarta digelar di Kampung Nyutran V, Sabtu (26/8/2017). Pagelaran ketoprak yang dimainkan oleh Paguyuban Nyutro Budoyo yang bermarkas di Nyutran V ini disutradarai oleh Yunike Marcella, mahasiswi ISI didampingi oleh Ki Wahyana Giri MC, yang juga Ketua Dewan Teater DIY.

Pagelaran dalam rangkaian memperingati HUT RI ke-72 melibatkan pemain dari warga Nyutran dan aktivis GNI (Green Network Indonesia), seperti Prof. Dr. Cahyono Agus (Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM), Dr. Transtoto (mantan Dirut Perhutani). Selain untuk menghibur dan berekspresi seni, pagelaran ketoprak juga sekaligus reuni dan mbangun kampung Nyutran. Para pendukung lakon dari kalangan tokoh populer, antara lain Yani Saptohudoyo (seniwati Yogya), Marsda (Purn.) Suwitno Adi, Multi Yanti (artis), Widyawati (Ketua PARFI DIY), Bambang KSR, dan lainnya.

Ketoprak Lesung yang diinisiasi Prof Dr Cahyono Agus, Guru Besar UGM bersama warga Nyutran Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta sebagai bagian dari upaya memberdayakan masyarakat agar  gumregah, bergotong royong, bekerja sama  mewujudkan Keistimewaan Yogyakarta secara mandiri (Foto Dok. Paguyuban Nyutro Budoyo)
Ketoprak Lesung yang diinisiasi Prof Dr Cahyono Agus, Guru Besar UGM bersama warga Nyutran Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta sebagai bagian dari upaya memberdayakan masyarakat agar gumregah, bergotong royong, bekerja sama mewujudkan Keistimewaan Yogyakarta secara mandiri (Foto Dok. Paguyuban Nyutro Budoyo)

Penggalian bakat melalui pertunjukan ini telah berhasil memberdayakan pemain muda potensial, seperti Margaretta, Viki, dan Ardi tampil sangat berkarakter sebagai modal dasar untuk ikut nguringuri budaya Jawa oleh generasi muda dengan konsep kekinian. Penampilan duet Prof. Cahyono dan Multi Yanti yang telah malang melintang di dunia film FTV secara totalitas mendapat apresiasi penuh dan memukau penonton serta telah menginspirasi tampilnya pemain muda berbakat lainnya.

Ketua Umum Nyutro Budoyo, Prof. Dr. Cahyono Agus mengungkap, Nyutro Budoyo memberdayakan seluruh lapisan masyarakat dan berbagai generasi secara menyeluruh dan terpadu. Pemberdayaan kesenian bagi orang dewasa dan orang tua dilakukan dengan mengembangkan divisi Ketoprak dan Gejog Lesung, untuk pemuda pemudi melalui seni teater dan Keprajuritan Nyutro, sedangkan bagi anak-anak melalui kesenian Jimbe Kid  dan dalang cilik.

“Kolaborasi dan pertunjukan terpadu lintas generasi juga sering dilakukan. Sehingga, pengembangan karakter bangsa melalui pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan kebudayaan, dapat menjadi acuan penting bagi bangsa Indonesia yang harus berakar kuat pada budaya leluhur lokal mandiri,” ungkapnya.

Melalui seni pertunjukan ketoprak bersama Paguyuban Nyutro Budoyo pimpinan Prof Dr Cahyono Agus sebagai upaya  memberdayakan masyarakat untuk gumregah, bergotong royong, bekerja sama mewujudkan Keistimewaan Yogyakarta secara mandiri (Foto Dok. Paguyuban Nyutro Budoyo)
Melalui seni pertunjukan ketoprak bersama Paguyuban Nyutro Budoyo pimpinan Prof Dr Cahyono Agus sebagai upaya memberdayakan masyarakat untuk gumregah, bergotong royong, bekerja sama mewujudkan Keistimewaan Yogyakarta secara mandiri (Foto Dok. Paguyuban Nyutro Budoyo)

Nyutro Budoyo telah berkontribusi nyata dalam penilaian lomba desa untuk bidang kebudayaan. Sehingga, Kalurahan Wirogunan sebagai juara 1 tingkat Kota Yogyakarta dan DIY serta akhirnya masuk 5 besar tingkat nasional. Selama ini, Nyutro Budaya berkembang dengan inisiasi kegiatan murni berasal dari masyarakat sendiri dan mandiri untuk turut ‘nguringuri’ serta mengaktualisasikan budaya dan budidaya leluhur nenek moyang agar menjadi budaya baru yang selaras dengan budaya globalisasi, dalam koridor Keistimewaan Yogyakarta.

Prof. Cahyono Agus menandaskan, Paguyuban Nyutro Budoyo memberdayakan masyarakat agar mampu menjadi mitra inisiator, konseptor, inspirator, motivator, dan fasilitator bagi kelompok masyarakat lain untuk gumregah, bergotong royong, bekerja sama untuk mewujudkan Keistimewaan Yogyakarta yang sesungguhnya secara mandiri. Terobosan, sinergi, dan inovasi besar peradaban baru ini merupakan hasil penggalian ulang, menemu-kenali dan perwujudan kembali budaya yang sempat terabaikan karena modernisasi.

Renaisans Yogyakarta yang dicetuskan Gubernur DIY, ditujukan guna terciptanya peradaban baru unggul yang menghasilkan manusia Indonesia yang utama (jalma kang utama), yang berasaskan rasa ke-Tuhanan, rasa kemanusiaan, dan rasa keadilan; dengan mengandalkan modal dasar kebudayaan dan pendidikan. [rts]