Gubernur BI Pernah Jadi Kenek Jurusan Jogja – Prambanan

859
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo melewati masa perjuangan hidup yang berkesan semasa kuliah di UGM. Foto : Dodhi Syailendra/KAGAMA
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo melewati masa perjuangan hidup yang berkesan semasa kuliah di UGM. Foto : Dodhi Syailendra/KAGAMA

KAGAMA.CO, JAKARTA – Langit tak selalu cerah, jalan pun tidak selalu rata dan perjalanan hidup itu tidak selalu mulus dan tak selalu indah.

Perjalanan hidup yang berat ataupun perjalanan hidup yang pahit
harus kita hadapi serta lalui, tapi percayalah, semua akan indah pada waktunya.

Penggalan kalimat di atas mungkin bisa menggambarkan sedikit episode kehidupan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.

Lahir dari keluargan petani sederhana, namun berkat ketekunan, kegigihan, dukungan serta doa dari keluarga, kini dia bisa berada di posisi saat ini.

“Saya berasal dari keluarga petani yang tinggal di Desa Gatak, Kelurahan Blimbing, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo.”

“Walau berada di Kabupaten Sukoharjo, posisi desa saya lebih dekat dengan Kota Solo.”

“Selain menjadi petani, almarhum ayah saya adalah seorang Kabayan atau Bayan (orang yang bertanggung jawab dalam hal pengembangan kemampuan dan potensi warga – red) di desa.”

“Saya anak keenam dari sembilan bersaudara dan keluarga saya
hidup sederhana,” tutur Perry kala ditemui KAGAMA di Jakarta belum lama ini.

Dia selalu ingat pesan ayah dan ibunya bahwa mereka tidak mewariskan harta benda yang bisa habis, tapi mereka mewariskan ilmu yang tak akan pernah habis dan bisa terus bertambah.

Oleh sebab itu, meski hidup sederhana, pendidikan selalu jadi prioritas dalam keluarganya.

“Ketika lulus dari SMA Negeri 3 Surakarta di tahun 1976, awalnya saya ingin masuk ke fakultas kedokteran.”

“Namun karena kondisi keuangan orangtua saat itu sangat terbatas, ibu saya mencari hutangan hingga mendapat uang pinjaman sebesar Rp35.000,00.”

“Lalu ongkos dari tempat saya ke Jogja kala itu Rp10.000,00, sisanya Rp25.000,00 dan uang sebesar itu tidak bisa untuk membeli formulir masuk kedokteran.”

“Akhirnya, saya memilih mendaftar masuk Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada dan kakak saya menganjurkan agar memilih Jurusan Akuntansi,” ungkap pria kelahiran 1959 tersebut.

Perry merasa beruntung karena lulus tes dan diterima masuk UGM dan dia mulai kuliah di tahun 1977.

“Sebagai anak petani, masuk UGM merupakan kebanggaan yang luar biasa bagi saya.”

“Tahun-tahun pertama semasa kuliah merupakan masa-masa penuh perjuangan.”

“Pasalnya, meski ibu selalu membawakan beras dan lauk, saya
harus mencukupi sendiri kebutuhan hidup dan kuliah dan mesti masak sendiri di kosan,” tuturnya.

Demi menyambung hidup, Perry pernah melakoni kerja sebagai kenek atau kondetur mobil angkutan penumpang.

“Kebetulan ada teman seangkatan yang bisa mengemudikan mobil dan punya mobil Colt terbuka yang dipakai untuk mobil angkutan penumpang jurusan Jogja – Prambanan.”

“Upah dari hasil ngenek dipakai untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari serta kuliah,” ucap Perry.

“Saya pun bersyukur karena Tuhan memberikan anugerah kepada saya yakni tekad dan daya pikir yang kuat disertai kemauan yang keras dan orangtua yang sangat mendukung.”

“Dari kenek, saya mulai memberikan les pelajaran matematika kepada siswa-siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) agar bisa menyambung hidup,” katanya.

Setelah dapat gelar Sarjana Muda, kehidupannya mulai membaik.

Pasalnya, dia bisa mencari uang tambahan dengan membuat stensilan soal jawab dengan teman.

Soal jawab itu diketik kemudian dicetak menjadi stensilan dan dijual kepada rekan mahasiswa lainnya.

Hasilnya dia gunakan untuk mengongkosi biaya hidup sehari-hari.

“Saya juga diminta menjadi asisten dosen di beberapa kampus serta memperoleh beasiswa.”

“Saya pun menjadi asisten akuntan di beberapa kantor akuntan.”

“Kadang saya diajak senior atau dosen untuk ikut mengaudit beberapa laporan keuangan.”

Aktivitas ini dia lakukan hingga lulus di tahun 1982.

“Kehidupan saya semasa kuliah penuh perjuangan tapi juga mengesankan.”

“Saya pun merasakan betapa akrabnya Angkatan 77 atau Brigade 77 yang hingga kini kami seperti saudara,” ungkap Perry mengenang lika-liku kehidupannya semasa kuliah.

Baca kisah selengkapnya di Majalah KAGAMA Edisi Nomor 31. (Josep)