Penggunaan pendekatan kreatif tersebut ia tempuh untuk menyikapi tingginya populasi dan beragamnya audiens yang hendak ia jangkau. Sosialisasi di Kota Yogyakarta tidak akan cukup hanya dengan mengandalkan sosialisasi melalui pertemuan tatap muka seperti yang dilakukan saat beraktivitas di wilayah terbatas di Kabupaten Sleman dan Bantul. Di Kota Yogyakarta, ia mulai intens memanfaatkan media sebagai penyambung lidah dalam bersosialisasi.

Adapun segmen audiens lainnya, lanjut Nieke, dijangkau dengan pendekatan kreatif seperti bekerja sama dengan Pitpaganda, maupun memanfaatkan event masyarakat seperti car free day untuk mendirikan laboratorium mini dengan tujuan akhir sama, sosialisasi. Masyarakat juga diajak terlibat aktif dalam proses sosialisasi, seperti pada pembuatan mural bertema penelitian dan kesehatan.

“Kami tengah bekerjasama dengan warga Kelurahan Karangwaru untuk menyelesaikan mural kelima,” jelas Nieke.

Tak hanya itu, sosialisasi yang bersifat massal juga pernah dilakukan saat mengajak masyarakat dan stakeholder dalam invitasi tenis meja Obah Bareng EDP-WMP Yogya Juli lalu. Pelajar kota Yogyakarta pun pernah dilibatkan dalam Festival Film Pendek Pelajar Jogja (FFPJ) awal tahun 2017 yang lalu.

Goyang Bareng Wolbachia merupakan satu bentuk pendekatan kreatif yang tengah dijajaki saat ini. Koordinator Media dan Komunikasi WMP Yogyakarta, Equatori Prabowo tak menutup kemungkinan akan melakukannya di lain waktu dengan audiens yang berbeda. Ia berharap terobosan yang ia lakukan berkontribusi pada penelitian yang kini tengah memasuki fase akhir tersebut.(Humas WMP)