Gempa Halmahera dan Kesadaran Bencana Gempa Bumi di Wilayah Indonesia Timur

227
Gayatri lndah Marliyani. Foto: Radar Jogja
Gayatri lndah Marliyani. Foto: Radar Jogja

Oleh: Dr. Gayatri lndah Marliyani, S.T., M.Sc. , Staf Ahli Pusat Studi Bencana (PSBA) dan Dosen Dept. Tk Geologi FT UGM)*

Gempa dahsyat yang terjadi di Palu tahun 2018, disusul oleh gempa merusak di Halmahera selatan pada 14 Juli 2019 memberikan petunjuk aktifnya tektonik di wilayah ini dan di wilayah timur Indonesia pada umumnya.

Walaupun bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa di masa lalu gempa merusak pernah terjadi di wilayah ini, masyarakat masih merasa terkejut dengan peristiwa ini.

Gempa yang terjadi di Halmahera disebabkan oleh pergerakan sesar mendatar, mirip dengan yang menyebabkan gempa di Palu, akan tetapi bersumber pada sistem sesar yang berbeda.

Wilayah Halmahera Selatan jika ditilik dari kondisi geologinya termasuk kawasan tektonik aktif yang kompleks.

Baca juga: Mahasiswa KKN UGM Bantu Korban Gempa Halmahera Selatan

Kawasan tektonik aktif ini dicirikan antara lain oleh adanya gunung api yang masih aktif dan seringnya kejadian gempa bumi.

Rekaman kegempaan di wilayah ini mengkonfirmasi hal ini, titik-titik pusat gempa terlihat berkumpul di sepanjang zona-zona sesar di daerah ini.

Jaringan seismometer yang dikelola oleh BMKG mampu mendeteksi dan mendokumentasikan kepadatan aktivitas kegempaan di daerah ini.

Gempa-gempa, baik yang dirasakan maupun tidak dirasakan oleh masyarakat (tidak dirasakan karena magnitudonya terlalu kecil, atau sumbernya terlalu jauh) bisa terekam dengan baik dan memberikan petunjuk lokasi keberadaan sesar-sesar aktif di daerah ini.

Baca juga: Banyak Bangunan Tak Tahan Gempa di Bantul

Di pulau Halmahera, terdapat beberapa sesar utama yang berpotensi menyebabkan gempa merusak: sesar naik Halmahera yang berada di lepas pantai barat Halmahera, dan sesar-sesar geser Sorong-Sula, Sorong-Maluku, dan Sorong-Bacan di bagian selatan pulau Halmahera.

Sesar-sesar geser ini melewati wilayah darat dan laut. Yang menyebabkan gempa pada 14 Juli 2018 adalah pergerakan yang terjadi pada sesar Sorong-Bacan.

Hal ini bisa disimpulkan dari olahan data seismometer dari gempa utama dan sebaran gempa susulan yang terjadi sesudah gempa utama yang berada di sekitar, dan searah dengan sesar Sorong-Bacan.

Sesar-sesar geser Sorong-Bacan, Sorong-Maluku, dan Sorong-Sula ini jika diturut ke arah timur merupakan percabangan dari sesar Sorong yang membelah bagian ujung barat-utara pulau Papua.

Baca juga: KagamaCare Gandeng Fakultas Teknik UGM Bangun Sekolah Tahan Gempa

Di sekitar pulau Batanta, sesar Sorong ini terpecah menjadi tiga sesar besar tersebut.

Gempa 14 Juli kemarin memiliki kekuatan sebesar M7.2 dengan kedalaman 10 km. Gempa ini menyebabkan kerusakan bangunan cukup besar, akan tetapi tidak menyebabkan tsunami.

Tsunami tidak terjadi karena mekanisme sesar yang terjadi adalah sesar geser, pusat gempa berada di darat, dan getaran yang terjadi tidak menyebabkan longsoran bawah laut sehingga tidak terjadi dislokasi tubuh air yang besar yang memicu tsunami.

Walaupun saat ini masih terjadi gempa susulan, frekuensi dan kekuatannya semakin mengecil.

Gempa susulan kemungkinan masih akan terus terjadi, selama beberapa minggu ke depan, sehingga masyarakat supaya menghindari bangunan yang rusak dan tidak stabil.*

Baca juga: Belajar Pemulihan Pascabencana dari Korban Selamat Gempa dan Tsunami Aceh 2004