Gastronomi dan Geografi Bukan Wisata Kuliner Biasa

84

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Program studi Pembangunan Wilayah Geografi UGM menyelenggarakan seminar SDGs ke-26, Rabu (21/2/2018) bertemakan “Gastronomi dan Geografi: Kreativitas Kuliner Khas Bandung dan Yogya”. Seminar yang diselenggarakan di Fakultas Geografi UGM ini dimoderatori oleh Prof. Dr. M. Baiquni, M.A dan dihadiri oleh berbagai elemen, antara lain para praktisi, akademisi, dan pebisnis.

Baiquni menjelaskan, makanan yang tersedia di piring merupakan sebuah mata rantai yang luas. “Pangan tidak sesederhana yang biasanya dipikirkan orang. Pangan merupakan ecological food print yang panjang,” jelasnya.

Baiquni mencontohkan burger yang bahan baku dagingnya berasal dari Australia, bawangnya berasal dari Bombay, dan sebagainya. Mata rantai pangan yang luas ini memasukkan sudut pandang waktu dan jarak di mana kajian geografi ikut serta.

Seminar ini diisi oleh Dewi Turgarini, S.S., MM. Par dan Minta Harsana, M.Sc. Dewi membawakan materi berjudul “Gastronomi Sunda sebagai Daya Tarik Wisata Kota Bandung”. Sedangkan Minta membawa materi berjudul “Makanan Tradisional sebagai Daya Tarik Wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta”. Keduanya mengambil tempat asal masing-masing sebagai wilayah kajian penelitian.

Dewi dan Minta menjelaskan gastronomi tidak hanya sekadar menyajikan makanan di meja saja. Namun, juga menggali lebih dalam mengenai sejarah, filosofi, asal usul, bagaimana pembuatannya, bagaimana penyajian, serta local wisdom dari makanan tersebut. Lebih lanjut, Minta menjelaskan setiap makanan mempunyai suatu standar ciri khas. Adanya ciri khas tersebut menandakan apakah makanan memang makanan tradisional dari daerah tersebut. Ciri khas tersebut biasanya berupa bahan makanan yang memang harus ada dalam suatu sajian makanan.

Kendala yang dihadapi Dewi dalam melacak makanan khas Bandung kurang tersedianya sumber yang dapat dijadikan referensi. Lain halnya dengan Minta yang mendapat banyak sekali sumber dokumen dari masa lalu, seperti Serat Centhini, Prasasti Taji, kidung, dan sebagainya yang memang masih dijaga dengan baik di Kesultanan Yogyakarta. [Shafiera Rosa El-Yasha]