Galeri Omahku Memoriku, Abadikan Benda-benda Kenangan Erupsi Merapi

44
Selain terdapat benda-benda rumah tangga, ada pula dokumentasi masa-masa erupsi Gunung Merapi yang terpampang di setiap dinding galeri.(Foto: Kinanthi)
Selain terdapat benda-benda rumah tangga, ada pula dokumentasi masa-masa erupsi Gunung Merapi yang terpampang di setiap dinding galeri.(Foto: Kinanthi)

KAGAMA.CO, SLEMAN – Letusan Gunung Merapi tahun 2010 telah memakan banyak korban dan berbagai kerusakan yang cukup parah.

Dalam satu abad terakhir, Merapi bisa mengeluarkan erupsi setiap dua hingga lima tahun sekali.

Beberapa bangunan dan peralatan rumah tangga penduduk rusak parah akibat tertimpa material vulkanik.

Walaupun telah kehilangan fungsinya, bangunan dan barang-barang ini tidak lantas dibuang.

Penduduk menghargainya sebagai benda-benda kenangan, saksi bisu erupsi Merapi tahun 2010.

Galeri Omahku Memoriku Merapi, merupakan rumah sederhana yang sebagian bangunannya telah hancur.

Rumah ini dijadikan sebagai tempat menyimpan sisa-sisa benda rumah tangga tersebut.

Galeri yang terletak di Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman ini didirikan atas inisiasi Topo, salah satu penduduk yang waktu itu menjadi korban erupsi Gunung Merapi.

Galeri didirikan sekitar akhir tahun 2013, lalu mulai ramai dikenal pada tahun 2014.

“Ini sebenarnya rumah bapak saya. Lalu saya jadikan galeri untuk tujuan bisnis,” ungkap Topo kepada Kagama, belum lama ini. Topo juga membuka usaha Pusat Oleh-oleh Merapi dan Kedai Merapi.

Selain terdapat benda-benda rumah tangga, ada pula dokumentasi masa-masa erupsi Gunung Merapi yang terpampang di setiap dinding galeri.(Foto: Kinanthi)
Selain terdapat benda-benda rumah tangga, ada pula dokumentasi masa-masa erupsi Gunung Merapi yang terpampang di setiap dinding galeri.(Foto: Kinanthi)

Topo menerangkan, pusat oleh-oleh dan kedai sudah lebih dulu didirikan di depan rumah bapaknya.

Kemudian Topo berpikir perlu ada sesuatu yang bisa “memancing” wisatawan untuk berkunjung ke pusat oleh-oleh dan kedainya.

Tercetuslah ide mengumpulkan benda-benda rumah tangga yang sudah rusak akibat terkena abu vulkanik.

Topo lalu menjadikan rumah bapaknya sebagai galeri untuk menyimpan dan memamerkan benda-benda tersebut.

“Galeri ini arahnya lebih ke seni. Setiap benda yang terkena awan panas lelehannya beda. Menurut saya ini ada nilai seninya,” ujar Topo.

Beberapa pengunjung banyak yang melihat galeri ini sebagai museum dan tempat belajar.

Menurut pengalaman Topo, dulu pernah ada wisatawan mancanegara dan mahasiswa yang berniat mengambil abu vulkanik untuk sampel penelitian.

Meskipun demikian, Topo tidak mempermasalahkan apapun pemaknaan penungunjung terhadap galerinya itu.