Epidemiolog UGM: Hanya Protokol Kesehatan Saja Terbukti Tidak Cukup untuk Menurunkan Transmisi

146
Pakar epidemiologi UGM, Riris Andono Ahmad, menilai Pemerintah Indonesia harus punya parameter yang jelas untuk mengatur mobilitas di masa pandemi Covid-19. Foto: Ist

KAGAMA.CO, JAKARTA – Virus tidaklah bepergian, orangnya yang bepergian. Ketika orang bepergian, maka virus akan terbawa.

Demikian analogi dari pakar epidemiologi UGM, Riris Andono Ahmad, mengenai situasi pandemi Covid-19 akibat virus corona.

Doni, begitu dia akrab disapa, melihat ada empat skenario yang bisa terjadi hingga pandemi selesai.

Pertama, skenario herd immunity (kekebalan kelompok). Sebuah skenario ketika orang membiarkan transmisi virus berlangsung secara cepat agar imunitas terbentuk.

Dampaknya, korban yang meninggal dunia bisa mencapai jutaan jiwa.

Baca juga: Guru Besar Fakultas Biologi UGM: Kondisi Kritis Menuntut Seluruh Manusia Memahami Ekologi

Sistem kesehatan dan sosial ekonomi akan kolaps, dan negara bisa berisiko gagal menjalankan skenario ini.

Butuh waktu lama untuk recovery melalui skenario herd immunity, yakni 1-2 tahun setelah pandemi usai.

“Skenario kedua adalah yang kita lakukan saat ini. Skenario penurunan transmisi dengan menghindari 3R (ruang tertutup, ramai-ramai, dan rumpi jarak dekat) dan melakukan 3T (testing, tracing, dan treatment).”

“Pandemi bisa menjadi lebih lama. WHO bilang bisa sampai lima tahun sampai muncul vaksin. Gelombang (pandemi) bisa berulang-ulang, karena orang masih bisa bepergian.”

“Korban relatif lebih sedikit. Ada resesi ekonomi, tetapi sistem sosial ekonomi bisa beradaptasi,” kata Doni, dalam Webinar KAGAMA Inkubasi Bisnis (KIB) ke-XIV, Minggu malam (28/9/2020).

Baca juga: Dukungan terhadap UMKM Bisa Membuat Masyarakat Bertahan Hidup di Masa Pandemi