Dubes Djauhari: Indonesia Berpotensi Jadi Kekuatan Ekonomi Digital Terbesar Asia Tenggara

29
Dubes Djauhari mengajak para investor mengisi ruang-ruang investasi di Indonesia. Foto: KBRI Beijing
Dubes Djauhari mengajak para investor mengisi ruang-ruang investasi di Indonesia. Foto: KBRI Beijing

KAGAMA.CO, SHANGHAI – Para stakeholder, investor, dan pengambil kebijakan dari Tiongkok dan Indonesia berkumpul dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Fintech-Indonesia di Shanghai, Tiongkok, pada Senin (1/7/2019).

Mereka membahas peluang investasi fintech di Indonesia dalam pertemuan yang kali pertama digelar oleh Momentum Works tersebut.

 

Baca juga:

Dubes Djauhari: Indonesia Primadona bagi Investasi Tiongkok

Begini Peluang Kerja Sama RI di Chonqing, Tiongkok Menurut Dubes Djauhari Oratmangun

 

Momentum Works adalah perusahaan fintech berskala internasional yang berkantor di Singapura.

Dalam kesempatan tersebut, Duta Besar RI untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun menyampaikan paparan tentang masa depan industri fintech di Indonesia.

Alumnus Fakultas Ekonomi UGM itu menyoroti keunggulan ekonomi digital Tiongkok dengan pasar Indonesia yang potensial.

Secara keseluruhan, lebih dari 150 investor dan praktisi industri senior di industri fintech Tiongkok menghadiri KTT Fintech Indonesia-Tiongkok. Foto: KBRI Beijing
Secara keseluruhan, lebih dari 150 investor dan praktisi industri senior di industri fintech Tiongkok menghadiri KTT Fintech Indonesia-Tiongkok. Foto: KBRI Beijing

Peluang di Indonesia

Dubes Djauhari mengajak para investor mengisi ruang-ruang investasi di Indonesia, termasuk infrastruktur digital dan sektor perbankan Islam, dan turut mewujudkan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi digital terbesar Asia Tenggara.

“Ini saatnya kita untuk Asia Timur dan Tenggara, dan kata kuncinya adalah kolaborasi dan kerja sama. Teknologi dan keuangan digital akan memberikan peran penting,” kata Dubes Djauhari.

Pihaknya membabar potensi fintech di Indonesia yang dipengaruhi oleh ledakan bonus demografi lebih dari 270 juta penduduk, dan PDB per modal di atas US4.000.

Akan tetapi, penetrasi bank hanya 50 persen, dan kepemilikan kartu kredit kurang dari 5 persen.

Dalam dua tahun terakhir, kata Dubes, banyak pemain lokal dan asing mulai berinvestasi besar-besaran di sektor ini, termasuk pinjaman fintech, pembayaran, dan insuretech.

“Gojek telah membangun GoPay-nya ke salah satu pemain fintech terkemuka di Indonesia; sementara OVO, dengan bermitra dengan Grab & Tokopedia, membentuk ekosistem pembayaran atau fintech terbesar terbuka di negara ini,” ujarnya.

Dubes Djauhari adalah satu dari 10 pembicara kunci dalam pertemuan tersebut.

Secara keseluruhan, lebih dari 150 investor dan praktisi industri senior di industri fintech Tiongkok menghadiri acara tersebut, bersama dengan lebih dari 40 perusahaan fintech dan investor dari Indonesia.