KAGAMA.CO, BULAKSUMUR—Kantin Bonbin merupakan salah satu kantin yang didirikan oleh Koesnadi Hardjosoemantri. Para pedagang kantin ini, awalnya merupakan para pedagang yang berjualan di sekitar Kampus UGM. Tepat di tahun 1988, Pak Koesnadi yang kala itu menjabat sebagai rektor merelokasi mereka ke sebuah tanah kosong di sisi uatara Fakultas Sastra (Kini FIB UGM)

Pemindahan lokasi tak membuat para pedagang kekurangan pembeli. Secara berbondong-bondong, mahasiswa dan masyarakat umum masih kerap mengunjungi kantin tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, kantin ini direlokasi kembali. Kabarnya, di akhir 2018 ini Bonbin akan direlokasi kembali di Plasa BI area Fakultas Filsafat (seberang lokaso Bonbin lama).

Para pedagang kantin ini, awalnya merupakan para pedagang yang berjualan di sekitar Kampus UGM.(Foto: Dok. Tari)
Para pedagang kantin ini, awalnya merupakan para pedagang yang berjualan di sekitar Kampus UGM.(Foto: Dok. Tari)

Melihat besarnya antusiasme para pelanggan terhadap kelestarian Kantin Bonbin, Kagama mencoba menelusuri asal-usul nama Bonbin yang melekat pada kantin yang sejak tahun 2008-2015 diberi nama Kantin Humaniora Mandiri oleh rektorat.

Dilansir dari liputan Tabloid Lentera Sastra (Koran spesial bagi mahasiswa baru dari Persma Dian Budaya FIB UGM) edisi 2015 terhadap Wiwik, bendahara Komunitas Pedagang Bonbin, terdapat dua versi asal-usul julukan ‘Bonbin’ yang melekat pada kantin ini.