KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Stadion Ngurah Rai hari itu dipadati pengunjung (28/6/1986). Hal tersebut berkenaan dengan diadakannya Festival Drumband se-Bali.

Tidak hanya masyarakat Bali, tampak di sana  ratusan bahkan ribuan turis baik asing maupun domestik ikut memadati jalan-jalan di sekitar area festival.

“Memang acara ini diadkan guna menjaring turis. Acara ini diadkan dalam rangka Pentas Seni Pulau Bali yang diadakan rutin sekitar bulan Juni atau Juli,” kata seoarang panitia yang tidak diketahui namanya, sebagaimana dikutip Majalah Balairung edisi 1 tahun 1986.

Dari 16 grup drumband yang tampil hari itu, drumband dari UGM tampak mendapat perhatian tersendiri dari penonton. “Lebih njawani,” celetuk waluyo seorang penonton yang berasal dari Jombang. Waluyo mengaku tertarik dengan kostum lurik dengan cinde biru dan celana putih yang dipakai Drumband UGM.

Menurut Ketua Panitia dari UGM Edy Baroto, Drumband UGM adalah salah satu tamu yang turut memeriahkan acara. Seperti perwakilan dari Universitas Udayana dan Universitas Indonesia.

“Keikutsertaan UGM bermula ketika bertemunya grup-grup drumband dalam Festival Drumband Nasional di Jakarta tahun lalu,” ujar Edy.

Dalam penampilannya, UGM dilengkapi 10 orang penari dan 12 orang pembawa bendera. Penonton pun bersorak sorai ketika UGM menampilkan koreonya.

Penampilan apik tersebut, kata pelatih bendera Budi Suhardono, lantaran persiapan matang yang telah dilakukan sebelumnya. “Kami latihan rutin sejak Maret dan ditambah perisiapan lainya,” imbuh Budi.

Ketika disinggung mengenai biaya, Nungky selaku Wakil Ketua Drum Band UGM mengutarakan biayanya berkisar pada angka 5 juta. Dana tersebut diperoleh dari patungan anggota, universitas, dan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama).(Thovan)