Donny Widianto Tertarik Jurusan Langka dan Sulit Dipelajari

383

Baca juga: Kala Gelanggang Lengang

Pada saat KKN itu pula, Donny juga mengalami peristiwa yang tak terlupakan, yaitu saat persiapan Pemilu tahun 1984.

Ketika itu ia dan teman-temannya sering mendengar percakapan antara aparat dan warga saat interview dalam rangka persiapan Pemilu tersebut.

“Ini bisa dibilang mengesankan. Artinya bisa Saya ceritakan ke orang-orang. Kalau teman-teman KKN ya mengesankan juga,” ujar Donny.

Donny kemudian menamatkan program S1-nya pada 1986.

Sempat Lost of Hope Soal Pekerjaan

Donny kini meniti karier sebagai dosen sekaligus Kaprodi S2 dan S3 Bioteknologi, Kepala Departemen, serta Kepala Laboraturium.

Baca juga: Ketua UKM Pencak Silat, Isfi: Gelanggang Tidak Pernah Tidur

Diakui Donny, ia sebetulnya tidak bercita-cita menjadi akademisi, karena ia terbuka dengan semua pekerjaan.

“Mungkin karena dulu Saya ditinggal bapak, jadi lost of hope begitu. Kerja apa sajalah mau. Tapi, tertarik juga jadi peneliti. Waktu itu ditawari oleh senior Saya untuk jadi peneliti sekaligus ngajar. Kemudian matur ibu dulu, sebetulnya ibu ingin Saya balik ke rumah, tetapi akhirnya diizinkan untuk jadi dosen,” ungkap anak ke-3 dari 5 bersaudara itu.

Masa awal menjadi dosen tidak mudah bagi Donny, apalagi upah yang ia terima saat itu terbilang kecil.

Sebelum CPNS, ia menerima honor sekitar Rp50.000.

“Waktu itu untuk biaya hidup di Jogja pas-pasan ya. Biaya hidupnya per bulan itu Rp25.000, termasuk biaya kos Rp5.000 dan makan bisa Rp15.000. Ada sisa Rp5.000 buat transport, tapi itu mepet banget,” ungkap Donny.

Baca juga: Plontjo dan Plontji dalam Penyambutan Mahasiswa Baru UGM Tahun 50-an