Doa UGM untuk Bangsa Diadakan Bukan karena Indonesia sedang Tidak Baik

145
Rektor UGM, Prof. Panut Mulyono menjelaskan motif di balik acara Doa UGM untuk Bangsa. Foto: Istimewa
Rektor UGM, Prof. Panut Mulyono menjelaskan motif di balik acara Doa UGM untuk Bangsa. Foto: Istimewa

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Doa UGM untuk Bangsa diselenggarakan di halaman utara Balairung pada Jumat (13/12/2019) malam.

Ribuan masyarakat pun tumpah ruah memadati Balairung UGM mengingat acara dibuka untuk khalayak umum.

Agenda ini merupakan salah satu rangkaian Dies Natalis ke-70 UGM.

Jika membaca nama acara ini, sebagian orang mungkin akan mengasumsikan bahwa Bangsa Indonesia sedang mengalami bencana atau masalah.

Karena itu, UGM sebagai representasi Indonesia menyumbang doa untuk keselamatan kehidupan bangsa.

Akan tetapi, Rektor  Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. menjelaskan bahwa Doa UGM untuk Bangsa diadakan bukan karena Indonesia sedang diterpa problematika.

“Indonesia saat ini dalam keadaan yang baik. Namun, doa harus kita lakukan dan panjatkan kepada Allah SWT setiap saat,” tutur Rektor Panut.

Baca jga: Dato Sri Tahir dan 8 Wantimpres Pilihan Presiden Jokowi

“Tidak hanya pada saat genting atau kritis. Doa harus selalu kita munajatkan kepada Allah SWT kapan saja setiap saat,” ucap mantan dekan Fakultas Teknik UGM ini.

Rektor Panut juga menilai, sebagai bangsa yang religius, masyarakat Indonesia  tentu meyakini bahwa berdoa akan memudahkan dan melancarkan usaha-usaha yang dilakukan dalam bekerja.

Dia pun berharap Indonesia dan UGM diberi kemudahan, kebahagiaan, dan kemampuan untuk menjalani kehidupan hingga mencapai kemakmuran dan kejayaan.

Urusan Sing Gedhe Manfaate

Acara berlanjut dengan pembacaan selawat bersama oleh Habib Sayyidi Al Baraqbah, Dewan Guru Majelis Rasulullah SAW, Yogyakarta.

Pembacaan selawat juga diiringi oleh Grup Hadrah dari Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.

Di sela-sela berselawat, Habib Sayyidi menyampaikan pesan tentang tenggang rasa.

“Dalam menyikapi segala macam perbedaan, kita boleh berbeda dengan suatu pendapat. Hanya saja, jangan sampai kita meninggalkan hati di antara kita berdua,” tuturnya.

Baca juga: Inovasi Hotel Ramah Milenial dan Local Wisdom untuk Majukan Pariwisata di Jogja