Dirjen KSDAE Alumnus UGM Sebut Cara Selamatkan Keragaman Hayati Pasca The New Normal

166
Dirjen KSDEA alumnus UGM, Ir. Wiratno M.Sc., memaparkan siasat menjaga keragaman hayati di Indonesia. Foto: Ist
Dirjen KSDEA alumnus UGM, Ir. Wiratno M.Sc., memaparkan siasat menjaga keragaman hayati di Indonesia. Foto: Ist

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Di mata Ir. Wiratno M.Sc, keragaman hayati bak seni yang tertabur di muka bumi.

Di Indonesia, seni keragaman hayati itu tergambar dalam 27,14 juta hektar kawasan konservasi.

Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam Ekosistem (KSDAE) RI ini mengatakan luasan tersebut setara dengan Inggris.

Sebagian dari 27,14 juta hektar kawasan konservasi tersebut merupakan 54 taman nasional di seluruh nusantara. Luasan kawasan konservasi tersebut tergolong amat besar.

Karena itu, Wiratno menyadari bahwa Pemerintah tidak mampu mengelola sendirian. Meskipun Direktorat Jenderal KSDAE punya 6000 staf di seluruh negeri.

Baca juga: Wujud Kepedulian KAGAMAHUT Kalbar untuk Masyarakat Kurang Mampu di Kota Pontianak

“Penyelamatan keragaman hayati bukan urusan pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat saja,” kata Wiratno, dalam Webinar Hari Keragaman Hayati 2020, Jumat (22/5/2020) lalu.

“Semua orang dan komunitas harus membangun kesadaran,” jelas alumnus Fakultas Kehutanan UGM tersebut.

Salah satu alasan mengapa semua pihak harus terlibat dalam penyelamatan keragaman hayati adalah pendanaan yang masih kurang.

Menurut Wiratno, pendanaan konservasi di Indonesia memang selalu meningkat dari tahun ke tahun. Hanya, nilainya masih belum besar.

Misalnya pada 2015, dana yang diberikan hanya 4,4 dolar AS per hektar. Bandingkan dengan Thailand yang sudah mencapai 16,86 dolar AS pada tahun serupa.

Baca juga: Pembangunan Infrastruktur Harus Berpihak pada Masyarakat Agar Produktivitas Ekonomi Tercapai