Dengan Urban Farming, Masyarakat Bisa Menikmati Hasil Panen Berkali-kali dalam Setahun

72
Menurut dosen Prodi Manajemen Sumber Daya Akuatik UGM ini, kegiatan urban farming tidak terlalu menyita waktu. Foto: Dok Pri
Menurut dosen Prodi Manajemen Sumber Daya Akuatik UGM ini, kegiatan urban farming tidak terlalu menyita waktu. Foto: Dok Pri

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Tinggal di tengah kota Jogja, Suadi, M.Agr, Sc., Ph.D, meniatkan diri untuk menjadi penggiat urban farming.

Saat masih menempuh studi lanjut di Jepang, Suadi yang hobi berkebun sudah memanfaatkan pekarangan kecil untuk memproduksi sayuran yang bisa dinikmati sendiri di rumah.

“Bagi saya urban farming merupakan kegiatan yang menyenangkan. Tidak hanya bisa memproduksi sesuatu yang berguna bagi saya dan rumah.”

“Tetapi, nampaknya juga ada kemanfaatan bagi yang lain. Banyaknya tanaman menarik serangga cukup banyak, sehingga saya juga menikmati keanekaragaman hayatinya,” ujarnya.

Hal tersebut dia sampaikan dalam diskusi online Bincang Desa (BISA), bertajuk Pengelolaan Lahan Terbatas yang Estetis dan Produktif.

Baca juga: Nahkodai KAFEGAMA MM Periode 2020-2023, Dirut Waskita Karya Fokus Tingkatkan Kemampuan SDM Indonesia

Acara ini digelar oleh Digital Extension Society for Agriculture Application (Desa Apps), Fakultas Pertanian UGM, pada Sabtu (17/10/2020).

Suadi memiliki pekarangan kosong yang dia gunakan untuk memproduksi ikan dan sayuran.

Sayuran diproduksi dengan cara vertikultur dan ikannya dia budidayakan dengan kolam terpal. Kedua sistem ini tersambung.

Suadi berpikir, limbah dari ikan tersebut bisa menjadi unsur hara bagi sayur-sayuran yang dia tanam.

Ada pun sayuran yang ditanam meliputi cabai, tomat, terong, seledri, mint, sawi, selada, dan masih banyak lagi.

Baca juga: Prof. Haryanto Ungkap Cerita Lucu Selama Pandemi dalam Dies Natalis ke-65 FISIPOL UGM