Deadline Skripsi 3 Minggu Antar Tunggul Jadi Lulusan Tercepat

547

“BIKIN skripsi gak perlu lama-lama. Ya, tiga minggu cukuplah.”

Ucapan dosen pembimbing skripsinya ini membuat Tunggul Wicaksono terkejut. Bukan perkara mudah mengejar deadline skripsi hanya dalam waktu tiga minggu saat ia sendiri pun sedang merasa down.

Sebelumnya, sejak Agustus 2017 Tunggul memang sudah mengerjakan draft skripsinya. Dibimbing dosen senior mendiang Dr. Samsu Rizal Panggabean yang sangat memahami isu skripsi yang ia ambil mengenai Peace and Security Studies. Namun, seminggu sebelum seminar proposal, Rizal sebagai dosen pembimbing dipanggil menghadap Tuhan. Kejadian yang tiba-tiba ini membuatnya sedih karena kehilangan dosen sekaligus pembimbing skripsi. Ia pun malas melanjutkan naskah skripsinya.

Di tengah keadaan ini, Tunggul dipertemukan dosen pembimbing baru yang menuntutnya untuk bekerja cepat. Mau tidak mau ia pun mengerjakan skripsinya dengan kontrak waktu tersebut. Dengan dorongan orangtua dan pemikiran bahwa apa yang sudah ia mulai harus diselesaikan terutama atas bimbingan serta ilmu yang diberikan almarhum dosennya, tidak pantas rasanya ia meninggalkan skripsinya.

Terpotong seminar proposal di pertengahan September, waktu yang dimiliki Tunggul hanya tinggal dua minggu. Untuk mengejar target waktu tersebut, setiap hari ia mengerjakan skripsinya. Setiap hari, pukul 08.00-16.00 ia mengerjakan di Perpustakaan Pusat dan malam hari mulai pukul 20.00 hingga 04.00 subuh ia mengerjakan di kafe. Begitu setiap hari hingga ia bisa mencapai target dan sidang di bulan Oktober.

Tunggul berfoto bersama teman satu jursan di Fisipol UGM [Foto Desti Ariyani]
Tunggul berfoto bersama teman SMA [Foto Dok. Tunggul]
Deadline skripsi selama tiga minggu tersebut ternyata berbuah manis. Dengan nilai A sempurna ia berhasil menjadi lulusan tercepat dengan predikat cumlaude dan IPK tertinggi di Departemen Ilmu Hubungan Internasional.

Sebagai mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional FISIPOL UGM, yang pada dasarnya mempelajari Ilmu Poltik, ia diharuskan mengetahui dan memahami isu-isu politik internasional terbaru. Dengan berbagai topik bahasan dan tema, Tunggul merasa tertarik dengan tema bahasan yang ia jadikan skripsi.

Tunggul yang merupakan bungsu dari dua bersaudara ini memang memiliki ketertarikan pada Peace and Security Studies. Khususnya mengenai imigran, termasuk pengungsi dan pencari suaka. Krisis keamanan ini menurut Tunggul berdampak pada tingkat pelanggaran HAM, krisis identitas atau cidera pada nilai demokrasi, yang membuatnya tertarik untuk menggali isu ini.

Sebagai lulusan Hubungan Internasional yang kerap dihubungkan dengan pekerjaan sebagai diplomat, Tunggul tidak memiliki keharusan untuk terjun di wilayah tertentu. Namun, jika memiliki kesempatan, ia ingin bekerja di Hongaria, sebuah negara di Eropa Timur. Ketertarikannya pada wilayah tersebut dikarenakan sebagai bagian dari Uni Eropa yang memiliki nilai demokrasi, Hongaria masih menerapkan prinsip “ileberal”. Selain prinsip politik ini, isu imigran yang menjadi ketertarikannya ini juga menjadi isu terbaru dan prominen yang sedang terjadi di Hongaria. [Desti Ariyani]