Darah Wonosobo Mengalir dalam Diri Raja Pertama Kesultanan Mataram

283

Baca juga: Sinergi KABIOGAMA-Fakultas Biologi UGM Bagikan Paket Sembako dan Daging Kurban ke Masyarakat

Menurut Ketua LOKANTARA (Lembaga Olah Kajian Nusantara), Dr. Purwadi, M.Hum, nama Wonosobo merupakan usulan dari Ki Demang Selomerto.

Nama ini diambil dari masyarakat setempat yang memanggil Syekh Ngabdullah dengan Ki Ageng Wonosobo I.

Perubahan status menjadi Kabupaten sekaligus menjadikan Ki Ageng Wonosobo sebagai bupati pertama yang memerintah antara 1489-1529.

Sejak menjabat sebagai bupati, Ki Ageng Wonosobo semakin memperlihatkan sumbangsihnya untuk Kesultanan Demak.

Seperti halnya saat Kesultanan membangun Masjid Agung Demak Bintara pada 1492.

Baca juga: Wujud Kepedulian KBRI Pretoria kepada WNI di Afrika Selatan dalam Momen Iduladha

“Lewat keuangan sang istri, Dyah Plobowangi, Ki Ageng Wonosobo membeli kayu jati dari Cepu. Juru ukir dari Jepara didatangkan,” kata Purwadi.

“Marmer dari Tulungagung pun diborong. Semua dengan kualitas terbaik. Biaya transportasi dan akomodasi ditanggung oleh Dyah Plobowangi,” jelas alumnus Fakultas Filsafat dan Fakultas Ilmu Budaya UGM tersebut.

Kepemimpinan Syekh Ngabdullah pun diteruskan oleh anak cucunya. Yakni Ki Ageng Wonosobo II yang memerintah pada 1529 – 1540.

Kemudian Ki Ageng Wonosobo III pada 1540 – 1582. Generasi ketiga Wonosobo ini melahirkan sosok-sosok yang tercatat dalam sejarah kerajaan.

Pernikahan Ki Ageng Wonosobo III dengan Rara Janten melahirkan Nyai Ageng Lawih, Nyai Ageng Manggar, Ki Ageng Juru Martani, dan Nyai Ageng Sabinah.

Baca juga: Kedatangan Menlu Retno di Yogya Annual Art #5 Membuat Butet Kartaredjasa Menangis