Dampak Cuaca Ekstrem, Penyakit Akut Leptospirosis di Bantul Meningkat

47
Cuaca disebut-sebut memiliki andil dalam merebaknya penyakit Leptospirosis. Tak terkecuali di Bantul. Foto: breakingnews.co.id
Cuaca disebut-sebut memiliki andil dalam merebaknya penyakit Leptospirosis. Tak terkecuali di Bantul. Foto: breakingnews.co.id

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Menurut rilis Depkes RI tahun 2015, Leptospirosis adalah penyakit bersumber dari binatang (zoonosis) yang bersifat akut.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira ada pada urin hewan, serta air atau tanah yang mengandung urin hewan rodensia.

Untuk diketahui, binatang rodensia adalah mamalia seperti tikus dan mencit.

Bakteri Leptospira masuk ke dalam tubuh manusia melalui kontak kulit, mata, hidung, dan mulut.

Orang-orang yang terkena penyakit dengan spektrum luas ini akan mengalami nyeri betis, menguningnya kulit dan bagian putih bola mata, pendarahan, sesak nafas, tidak mampu buang air kecil, detak jantung tidak teratur, batuk, hingga ruam.

Apabila tidak ditolong dengan segera, orang telah terjangkiti penyakit Leptospirosis dapat meninggal dunia.

Penyakit ini menjadi perhatian khusus bagi negara berkembang di wilayah tropis, termasuk Indonesia.

Baca juga: Pencegahan Bullying Perlu Masuk Kurikulum Pendidikan Sekolah Dasar

Nur Lathifah Syakbanah dkk. pun tergugah untuk mencari tahu apakah cuaca memang memiliki korelasi terhadap penyakit Leptospirosis.

Dia dan dua temannya lalu melakukan penelitian berjudul Analisis Temporal Efek Cuaca terhadap Leptospirosis di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Tahun 2010-2018.

Penelitian ini dipublikasikan melalui jurnal Berita Kedokteran Masyarakat FKK-KMK UGM pada 2018.

Lathifah memiliki dugaan tersebut karena seorang pakar mengatakan bahwa suhu udara, curah hujan, kelembapan, kecepatan angin, penyinaran matahari, dan cuaca ekstrem seperti banjir atau badai siklon, bisa menggeser pola geografis dan pola musiman penyakit menular.

Sehingga, perkembangan dan kelangsungan hidup bakteri dipengruhi oleh faktor cuaca.

Selain itu, CFR (Case Fatality Rate) atau angka kematian yang disebabkan oleh penyakit Leptospirosisdi DIY meningkat dalam lima tahun terakhir.

Nilai tertinggi terjadi pada 2017, ketika ada 24 orang yang meninggal dunia dari 123 kasus.

Baca juga: Kesepakatan dari PBB yang Bisa Pangkas Terorisme di Indonesia