Cucu Pendiri Fakultas Filsafat UGM Raih IPK 4,00, Ingin Berkarier di Bidang HAM untuk Perempuan

1796
Karin ingin membantu perempuan-perempuan di Indonesia dan seluruh dunia untuk dapat lebih mandiri, serta membantu mereka memahami dan mendapatkan hak-haknya. Foto: Kinanthi
Karin ingin membantu perempuan-perempuan di Indonesia dan seluruh dunia untuk dapat lebih mandiri, serta membantu mereka memahami dan mendapatkan hak-haknya. Foto: Kinanthi

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Dibandingkan dengan kuliah S1, kuliah di jenjang S2 dinilai lebih berat.

Tetapi, Diantika Rindam Floranti (25) tidak menyangka jika dia bisa mendapatkan IPK 4,00 dan menjadi wisudawan terbaik pada Wisuda Program Magister dan Doktor Periode I Tahun Akademik 2019/2020 pada Rabu (24/10/2019).

“Dulu waktu S1 lebih berfokus pada law as norms. Namun pada jenjang S2 studinya lebih komprehensif, di samping law as norms, perlu juga memahami mengenai antara hukum dengan realitas di masyarakat atau praktiknya,” ujar perempuan yang akrab disapa Karin ini.

Hal lain yang juga menantang, karena Karin mengambil Master of Law International Postgraduate Program (LL.M Program), sehingga perkuliahan, tugas, dan tesis semua menggunakan bahasa Inggris.

Kemudian dalam program itu, Karin diharuskan mengambil mata kuliah International Exposure, baik dalam bentuk double degree, mempresentasikan paper pada International Conference, Internship, atau Reseach Collaboration.

Mengingat kompleksitas tersebut, sejak awal Karin tak punya target untuk memperoleh nilai tertinggi.

“Target Saya selama kuliah magister ini adalah memanfaatkan seluruh masa studi Saya semaksimal mungkin untuk meningkatkan ilmu dan keahlian hukum Saya, di samping juga mengembangkan diri, koneksi, dan juga pengalaman,” jelas Karin.

Foto bersama Dekan dan teman-teman usai wisuda. Foto: Kinanthi
Foto bersama keluarga, Dekan, dan (paling kiri) Sekprodi Magister Ilmu Hukum, Ibu Sri Wiyanti Eddyono, S.H., LL.M, Ph.D Foto: Kinanthi

Baca juga: KAGAMA Filsafat Bantu Warga Kekeringan di Gunungkidul

Diceritakan oleh Karin, kelasnya hanya diikuti lima mahasiswa, sehingga kegiatan perkuliahan menjadi intensif dan penuh dengan diskusi-diskusi yang mendalam dengan ahli hukum nasional maupun internasional.

Setiap pertemuannya dirasakan Karin sangat bermanfaat.

Oleh karena itu sebisa mungkin dia tidak melewatkan perkuliahan.

Karin menempuh studinya di Magister Ilmu Hukum.

Menurutnya dalam memahami hukum secara utuh, serta menciptakan hukum yang baik, adil, dan bermanfaat, dibutuhkan input dari beragam perspektif.

Oleh karenanya, sering berdiskusi dengan rekan sejawat maupun dosen-dosen sangat diperlukan.

“Budaya untuk mendiskusikan problem hukum, lantas kemudian mencari solusi adalah hal yang paling baik Saya dapatkan selama studi Saya ini. Pertukaran pikiran yang dinamis ini, selain memperluas perspektif, juga menajamkan skil analisis hukum,” tandas Karin.

Baca juga: Kaum Milenial Banyak Gunakan Bahasa Humor Saat Demo