Cornelis Lay Berpulang, Celengan Bambu dari Kupang Jadi Kenangan

2802

Baca juga: Sapardi Djoko Damono Wafat, Indonesia Kehilangan Pujangga Romantis Jebolan UGM

“Dengan kata lain, saya bertransformasi dari seseorang yang homogen menjadi lebih heterogen. Itu pula yang menjadi basis penting saya untuk memutuskan pilihan karier saya di kemudian hari,” kenang penggemar Bung Karno ini.

Conny mulai kuliah di Jurusan Ilmu Pemerintahan (sekarang Departemen Politik Pemerintahan) pada 1980.

Pada tahun pertama kuliah, Conny mengaku bertahan hidup dengan sisa uang dari celengan bambu pemberian ibunya.

Saat itulah Conny mulai menulis untuk media massa. Secara tak langsung, aktivitas itu mengasah kemampuan akademiknya.

Karena untuk menulis, dia juga harus melahap buku-buku. Dia pun menikmati kehidupan kampus di eranya.

Baca juga: Dubes Wahid Temui Orang Banyumas di Rusia yang Belum Pernah Pulang ke Indonesia

Warna-warni Jogja membentuk cara pandang Conny terhadap Indonesia secara keseluruhan.

Negeri ini, kata dia, betul-betul negeri yang sangat majemuk. Unik. Berbeda dengan kampung halamannya.

“Di Kupang memang majemuk, tetapi semuanya berada dalam satu nuansa dan ekspresi berbahasa yang sama,” ujar Conny.

“Namun di Kota Pelajar ini, cara orang marah, memaki, mempunyai ekspresi yang berbeda. Ada cara Batak, cara Jawa, dan seterusnya,” terangnya.

Conny lulus dari Ilmu Pemerintahan pada 1987 lalu menjadi dosen. Dia melanjutkan pendidikan S2 di St. Mary’s University, Halifax, Kanada (1992), dan Doktor Ilmu Politik UGM (2007).

Selama di Kampus Kerakyatan, Conny menduduki beberapa jabatan struktural seperti ketua departemen dan pembantu dekan. (Ts/-Th)

Baca juga: Menikmati Panorama Delapan Gunung di Kebun Teh Nglinggo