Cornelis Lay Berpulang, Celengan Bambu dari Kupang Jadi Kenangan

2802

Baca juga: Ganjar Perkenalkan Majalah KAGAMA di Hadapan Alumni UGM

Pencapaian tersebut bukannya ditempuh dalam waktu instan. Sebab, ada cerita panjang penuh perjuangan yang ditulis Conny.

Cerita itu sempat diungkapkan mendiang saat dijumpai Kagama setahun silam.

Conny mengaku, kehidupannya di Kupang, Nusa Tenggara Timur, tak pernah di rumah.

Sejak kecil hingga SMA, anak keempat dari enam bersaudara itu hidup di jalan.

Dia berpindah dari pasar ke pasar, blusukan ke pedalaman, dan membantu orang tuanya jualan. Bahkan, jadi buruh pun dilakoni.

Baca juga: Upaya Dirjen KSDAE Selamatkan Harimau Sumatera dari Kepunahan

Keadaan susah memang harus diterima, tetapi Conny menyimpan tekad besar untuk mengubah nasib.

“Bisa bertahan hidup sudah sebuah prestasi pada era itu. Dan saya nggak punya imajinasi mau masuk jurusan apa. Pokoknya berangkat keluar. Sekolah aja. Tidak ada bayangan,” kisahnya.

Sebenarnya, ide untuk merantau ke Jogja tak pernah ada dalam pikiran Conny.

Keinginan kuliah di Jogja justru dimiliki oleh sahabat karibnya, George Eman.

Hanya, ayah George tak memberinya izin, kecuali ditemani Conny. Berangkatlah mereka berdua ke Kota Pelajar.

Baca juga: Resmi Dilantik Jadi Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Prof. Nizam Ingin Wujudkan 3 Kunci