Co-Founder Modal Rakyat Alumnus UGM: Terkait Kultur dan Mindset Menjadi Entrepreneur, Indonesia Perlu Belajar dari AS

67

Baca juga: Faktor yang Membuat Adaptasi Kebiasaan Baru Sulit Diterapkan di Angkutan Perkotaan

Alumnus Ilmu Manajemen UGM angkatan 2008 itu menuturkan, seharusnya masyarakat didorong untuk mau berwirausaha. Untuk mendorong upaya tersebut, butuh pula dukungan dari institusi pendidikan.

Switzerland maupun US, menurut Stan menjadi negara yang banyak melahirkan entrepreneur, karena sistem pendidikan kedua negara ini juga berorientasi pada penciptaan entrepreneur.

“Kita perlu membangun budaya selebrasi atau penghargaan pada seseorang yang baru mencoba, bahkan kepada mereka yang gagal.”

“Membangun startup bukan sesuatu yang mudah. Peluang gagal di awal merintis jelas sangat besar, jadi memang kita harus berani. Gagal menjadi bagian dari proses menjadi entrepreneur,” ujar Co-Founder Sorabel by Salestock ini.

Seiring dengan menjamurnya startup di Indonesia, UMKM juga dituntut untuk bisa melek digital seperti halnya startup. Dari kondisi tersebut, Stan menyebut sebagian orang sempat bingung membedakan startup dan UMKM di era digital ini.

Baca juga: Lakukan Mitigasi Penanganan Covid-19, Fakultas Biologi UGM Sosialisasikan Ketahanan Pangan kepada Petani Desa Madurejo

“Ada persamaan dan perbedaan, yang jelas keduanya sama-sama membuka bisnis. Perbedaannya, startup menggunakan mindset pengembangan (growth) yang cukup masif dan erat kaitannya dengan teknologi.”

“Startup yang berkembang biasanya akan digandrungi banyak investor dari luar negeri, sehingga muncul unicorn,” terangnya.

Menurut Stan, keberadaan entrepreneur dan startup memiliki peran penting bagi GDP. Dapat dilihat, entrepreneur dan startup membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sampai meningkatkan produktivitas.

Kemudian dihasilkan pula revenue bagi pengusahanya, beserta pajak yang akan dibayarkan ke pemerintah, yang harapannya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melalui pembangunan.

“Saat ini kita sedang menghadapi pandemi Covid-19, Saya percaya ada peluang di dalam krisis ini. Kita tahu bahwa pembatasan sosial menghambat aktivitas fisik dan mobilitas masyarakat, sehingga masyarakat memilih mengakses kebutuhannya secara online.”

“Manfaatkan dengan baik peluang ini, karena platform untuk menjual produk online juga sudah tersedia secara luas,” tegasnya. (Kn/-Th)

Baca juga: Dosen IAIN Bengkulu Alumnus UGM: Tenaga Pendidik Harus Lebih Kreatif dalam Pembelajaran Daring