Co-Founder Modal Rakyat Alumnus UGM: Terkait Kultur dan Mindset Menjadi Entrepreneur, Indonesia Perlu Belajar dari AS

64
Alumnus Ilmu Manajemen UGM ini berujar, entrepreneurship merupakan usaha seseorang untuk melakukan hal-hal baru dengan memanfaatkan peluang dan teknologi yang ada, serta di saat yang sama melawan status quo demi menuju arah yang lebih baik. Foto: Ist
Alumnus Ilmu Manajemen UGM ini berujar, entrepreneurship merupakan usaha seseorang untuk melakukan hal-hal baru dengan memanfaatkan peluang dan teknologi yang ada, serta di saat yang sama melawan status quo demi menuju arah yang lebih baik. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Entrepreneur tidak sekadar nama profesi, tetapi juga sebuah mindest.

Co-Founder Modal Rakyat, Stanislaus Tandelilin mengatakan, semua orang bisa menjadi entrepreneur, bahkan mereka yang sudah bekerja di sebuah instansi sekalipun.

“Menurut saya entrepreneurship merupakan usaha seseorang untuk melakukan hal-hal baru dengan memanfaatkan peluang dan teknologi yang ada, serta di saat yang sama melawan status quo demi menuju arah yang lebih baik.”

“Entrepreneur itu orangnya, startup itu organisasinya,” ungkapnya.

Stan, sapaan akrabnya, menyampaikan hal tersebut dalam webinar bertajuk 70 Tahun Hubungan RI-AS: Evaluasi dan Proyeksi, yang digelar pada Minggu (8/8/2020) oleh PP KAGAMA dan KAGAMA Amerika.

Baca juga: Nezar Patria: Fakultas Filsafat UGM adalah Sekolah Kepenulisan Terbaik di Indonesia

AS, kata Stan, bisa menjadi negara percontohan pengembangan startup dan entrepreneurship.

Data  Global Talent Competitiveness Index (GGTCI), kata Stan, AS menjadi negara dengan peringkat ke dua atas kualitas SDM dan kemampuan daya saingnya.

GTCI memberi referensi tentang data kondisi pemerintah dan bisnis dari 125 negara, yang nantinya menjadi referensi bagi kebijakan dan strategi pengembangan SDM yang berkualitas.

“Menurut saya, AS bisa jadi starting point bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing. Namun, ini juga tidak mudah, salah satu persoalannya adalah kultur.”

“Di AS, seseorang gagal mencoba sesuatu malah dirayakan dan dihargai. Di sini ada orang gagal langsung dianggap menganggur, padahal bisa saja dia sedang merencanakan sebuah usaha,” tuturnya.

Baca juga: 19 Tahun Berkarier di Bidang Kehutanan, Korsa Rimbawan Selalu Jadi Kebanggaan Tri Wira Yuwati