Cinta, Salah Satu Alasan Tindakan Rasialis Dimaafkan

51
Sekalipun menyimpang, tindakan seorang manusia mungkin dibenarkan jika dilandasi embel-embel cinta. Foto: Nirmeke
Sekalipun menyimpang, tindakan seorang manusia mungkin dibenarkan jika dilandasi embel-embel cinta. Foto: Nirmeke

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Ketika merasakan cinta, manusia akan mengalami pergolakan segala emosi yang kompleks.

Buaian cinta yang timbul tidak hanya mengasihi dan menyayangi.

Meski begitu, jika disederhanakan, naluri akan membawa manusia berpikir bahwa cinta itu sesederhana dapat memiliki seseorang.

Hanya saja, orang yang meyakini definisi ini  bakal tidak lagi bisa menghargai cinta.

Yakni bila seseorang yang dia cintai ternyata dicintai juga orang lain.

Pernyataan ini sebagimana dituturkan Atika, audiens dalam bincang-bincang santai bersama Impulse Yogyakarta (Institute for Multiculturalism and Pluralism) yang diikuti KAGAMA beberapa waktu lalu.

“Padahal, ini juga sama-sama bentuk cinta. Inilah alasan mengapa orang-orang lebih mudah menerima konsep cinta yang ditawarkan FTV atau film,” kata Atika.

Bincang-bincang santai bertajuk 'Perempuan Simpanan dalam Tradisi Elite Birokrat Indonesia' bersama Impulse Yogyakarta (Institute for Multiculturalism and Pluralism). Foto: Tsalis
Bincang-bincang santai bertajuk ‘Perempuan Simpanan dalam Tradisi Elite Birokrat Indonesia’ bersama Impulse Yogyakarta (Institute for Multiculturalism and Pluralism). Foto: Tsalis

Baca juga: Sahid Susanto Muda, Rajin Bantu Orang Tua Berdagang Sampai Jadi Sopir Angkutan

Menurut Atika, konsep cinta yang dewasa ini berkembang tercipta akibat kombinasi produk dan bisnis.

Padahal, masih kata Atika, realitas cinta yang terjadi merujuk pada sejarah.

Maksud Atika di sini adalah sejarah memperlihatkan bahwa cinta tidak  muncul karena seseorang mencintai satu insan.

Akan tetapi, seseorang bisa memiliki hubungan pertalian hati dengan lebih dari satu orang.

Dalam hal ini, misalnya mengenai fenomena perseliran pada masa kerajaan.

“Orang-orang melihat, normalnya itu cinta yang dikomersialkan. Bukan cinta yang bersumber dari sejarah,” kata Atika.

Di sisi lain, Atika menilai orang-orang mungkin tidak melihat konsep cinta yang bersumber dari sejarah.

Baca juga: Kembangkan Sapi Unggulan, UGM Berharap Bisa Swasembada Daging