Cerita Dokter Alumnus UGM yang Penuh Tantangan Saat Menjadi Relawan Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid-19

113

Baca juga: Cerita dari Anak-anak yang Menghadapi Pandemi Covid-19

“Proses pembuatan protokol mengikuti perkembangan keilmuan, perubahan kriteria diagnosis, kriteria admisi, pengobatan, dan kriteria admisi. Kita fleksibel, yang penting memaksimalkan fungsi kerja kita,” jelasnya.

Para relawan juga membuat Panduan Pencegahan Infeksi (PPI), dengan membagi area kerja menjadi dua zona yakni zona hijau dan merah.

Zona hijau untuk ruang kerja manajemen, gizi, laboratorium, ruang ganti, dan mess. Sedangkan zona merah untuk IGD, radiologi, dan bangsal.

“Rumah sakit ini juga memiliki sanutarian dan konsulan PPI. Sterilisasinya menggunakan UV dan dry mist. Bangsal dan IGD dilengkapi dengan Hepa filter,” ungkap dokter yang saat ini juga menjadi peneliti di Centre of Health Policy and Management UGM itu.

Di masa-masa awal Covid-19 mewabah di DIY, RSKLC Bantul bisa menerima tes swab 10-50 orang per hari.

Baca juga: Tetap Bugar Selama Pandemi, Begini Tips Berolahraga di Dalam Rumah dari Pakar Kesehatan UGM

Tetapi, kata Issa, setelah normal baru sudah ada peningkatan menjadi 100-200 per hari.

Bagi Issa, saat awal menjadi relawan tidak mudah, terutama ketika pasien yang mengakses pelayanan rumah sakit semakin bertambah. Mereka dituntut untuk bekerja cepat.

Namun, tantangan tersebut bisa dilalui. Kini para relawan dokter bisa melaksanakan tes swab untuk 20 orang dalam waktu 1 jam saja.

Tak berhenti di situ, Issa juga menghadapi tantangan menghadapi pasien yang denial.

Maksudnya, pasien merasa tidak sakit dan keras kepala tidak ingin dirawat.

Baca juga: Teliti Manfaat Teknologi Nuklir bagi Kehidupan, Hantarkan Agus Budhie Wijatna Jadi Guru Besar