Cerita di Balik Perubahan Nama Saragi Menjadi Sragen

111
Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (LOKANTARA), Dr. Purwadi, M.Hum., membabar cerita tentang awal mula Kabupaten Sragen dibentuk. Foto: Sragenkab
Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (LOKANTARA), Dr. Purwadi, M.Hum., membabar cerita tentang awal mula Kabupaten Sragen dibentuk. Foto: Sragenkab

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Raja pertama Kesultanan Pajang, Joko Tingkir, kehilangan sosok ayah sedari kecil.

Ayah Joko Tingkir adalah Kebo Kenanga, murid dari Syekh Siti Jenar.

Adapun Kebo Kenanga merupakan anak dari Handayaningrat (Bupati Pengging) dan Kanjeng Ratu Pembayun (putri Raja Majapahit, Brawijaya V).

Joko Tingkir kecil lalu diasuh oleh pamannya, yakni Ki Ageng Butuh (adik dari istri Kebo Kenanga: Nyai Ageng Pengging) yang juga murid Syekh Siti Jenar.

Ketua LOKANTARA (Lembaga Olah Kajian Nusantara), Dr. Purwadi, M.Hum., mengatakan, Ki Ageng Butuh adalah sosok yang terkenal saktri mandraguna.

Baca juga: Alumnus FEB UGM Terpilih Jadi Ketua ISEI Jakarta Raya

Berbagai ilmu dia kuasai berikut ritual-ritual tertentu yang selalu dilaksanakan.

Bersama dengan teman seperguruannya, Ki Ageng Butuh belajar ilmu sangkan paraning dumadi, kawruh kasampurnan, ilmu sejati, kawruh beja dan manunggaling kawula Gusti.

“Ilmu pengetahuan tingkat tinggi tersebut amat tersohor di mata kasepuhan Jawa,” ujar Purwadi.

“Untuk mempelajari makrifat sejati kejawen ini diperlukan sarana dan tata cara khusus. Pengajarannya harus hati-hati,” terangnya.

Karena itu, Ki Ageng Butuh juga disebut Purwadi sebagai guru dari Joko Tingkir.

Baca juga: Hal yang Membuat Kabupaten Puncak Masih Steril Covid-19