Cerita Bambang Purwoko Mendidik dan Tinggal Bersama Anak-anak Papua

329

Baca juga: Orang-orang Muda ini ke Jogja Cari Ilmu untuk Bangun Papua

Bambang mengatakan, kualitas pendidikan yang tertinggal kemudian mempengaruhi elemen-elemen lainnya, termasuk kualitas SDM dan birokrasinya.

Ini menjadi lingkaran setan yang membuat masalahnya semakin rumit.

Berangkat dari hal tersebut, Bambang mengusulkan program guru perintis.

Guru-guru ini diambil dari luar Papua yang dilatih untuk kemudian dikirim ke Papua dan mengajar di sana.

Program ini mulai berjalan pada 2013 di Kabupaten Puncak.

Baca juga: Asmat, Panggung Budaya Indonesia di Papua

“Efeknya luar biasa, karena pendidikan di Puncak benar-benar macet akibat dampak dari perang suku dengan korban yang sangat banyak, sehingga anak-anak takut pergi ke sekolah,” ungkapnya.

Hadirnya guru perintis ini, kata Bambang, kemudian menghidupkan gairah belajar anak-anak.

“Ada 96 guru waktu itu. Program ini kemudian kita koneksikan dengan UGM dan Jakarta,” ujar dosen yang menyelesaikan stdi S2-nya di University of Western Australia itu.

Menginisiasi Gugus Tugas Papua

Bambang kemudian menginisiasi terbentuknya Gugus Tugas Papua (GTP) pada 2013.

Sebuah gugus lintas fakultas dan unit kerja di lingkungan UGM yang melibatkan dosen, peneliti, dan ahli tentang Papua.

Baca juga: Siswa Papua Menggapai Asa