Cerita Bambang Purwoko Mendidik dan Tinggal Bersama Anak-anak Papua

346
Ilustrasi: Bambang Purwoko (kemeja putih) tinggal bersama anak-anak Papua di kediamannya. Mereka didik dengan hati dan kasih, didatangkan guru khusus untuk menemani belajar. Foto: GTP UGM
Ilustrasi: Bambang Purwoko (kemeja putih) tinggal bersama anak-anak Papua di kediamannya. Mereka didik dengan hati dan kasih, didatangkan guru khusus untuk menemani belajar. Foto: GTP UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Menghayati tugas sebagai guru tidak hanya dilakukan ketika Drs. Bambang Purwoko, MA diangkat menjadi dosen, tetapi juga ketika dirinya intens berinteraksi dengan masyarakat Papua.

Mendidik anak-anak Papua, kata Bambang, harus penuh dengan kasih dan kesabaran.

”Pada 1997 itu pertama kalinya Saya ke Sorong dan Jayapura dalam rangka penelitian proyek percontohan pelaksanaan otonomi daerah (Otda), yang merupakan kerja sama Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP) dan Kemendagri untuk melihat sejauh mana implementasi Otda di daerah percontohan itu bisa bekerja dengan baik,” ujar Bambang kepada KAGAMA, belum lama ini di ruang kerjanya.

Bambang kemudian kembali lagi ke Sorong tahun 2000 sebagai tim seleksi calon mahasiswa S2.

Pada saat itu juga ada permintaan kelas khusus dengan Kabupaten Sorong.

Makan bersama anak-anak Papua di rumah Bambang. Foto: GTP UGM
Makan bersama anak-anak Papua di rumah Bambang. Foto: GTP UGM

Baca juga: Jogja Aman dan Nyaman bagi Warga Papua

Setelah kelas khusus ini, otomatis interaksi Bambang dengan warga Papua mulai intens.

”Dari kelas khusus itu banyak yang jadi pejabat dan pegawai pemerintah. Sampai saat ini kami masih melakukan pendampingan khusus. Setiap kelas kami harus memastikan mereka harus betul-betul paham. Dari situlah Saya mulai menghayati tugas sebagai guru,” ujar pria kelahiran 1961 itu.

Banyak Bergaul Secara Personal

Dengan sabar Bambang mencoba memahami anak-anak Papua.

Menjadi guru, kata Bambang, bukan sekadar transfer knowledge.

Tetapi, dalam menyampaikan ilmu pengetahuan juga perlu ada sikap empati, attitude, dan sebagainya.

Baca juga: Sambut Warga Papua di Jogja, Pratikno: Keterbatasan adalah Guru Paling Sempurna