Catcalling yang Jadi Mimpi Buruk Kaum Perempuan

64
Semua orang, termasuk perempuan berhak mendapatkan rasa aman dan nyaman dalam melakukan segala hal. Foto: Rimma
Semua orang, termasuk perempuan berhak mendapatkan rasa aman dan nyaman dalam melakukan segala hal. Foto: Rimma

KAGAMA.CO, BULAKSUMURCatcalling merupakan salah satu bentuk street harassment, yang umumnya dialami perempuan.

Kata catcall dalam kamus berarti ejekan. Bila dialihbahasakan, catcalling artinya komentar, siulan, atau teriakan yang berkaitan dengan hal-hal dengan seksualitas yang dialami seseorang ketika sedang berjalan di tempat umum.

Meskipun kerap dialami perempuan, masih ada sebagian orang yang belum memahami catcalling sebagai street harassement.

Sampai sekarang pun belum ada aturan atau UU yang mengatur soal catcalling.

Kaum perempuan sering melakukan berbagai cara untuk menghindari catcalling yang mungkin akan mereka hadapi kapan pun dan di mana pun.

Apa yang sebetulnya dirasakan setiap perempuan ketika mendapat catcalling di jalan?

Baca juga: Jelajah Gunung ala Reuni Pertanian ’72 yang Gayeng dan Nostalgia Bambang Ungaran ‘Si Dunia Terasa Berputar’

Cenderung Mengalami Trauma

Catcalling kerap dianggap sebagai tindakan yang sekadar bercanda, bahkan ada yang menganggap ini sebagai pujian.

Tahu kah kamu bahwa perempuan cenderung mengalami trauma setelah mendengar siulan dari para lelaki di jalan yang ditujukan kepadanya?

Seorang perempuan berinisial KT, semasa remajanya mengaku kerap alami catcalling ketika berangkat dan pulang sekolah.

Saat berangkat, ada tukang parkir yang memanggilnya dengan kalimat, “hei manis“, ketika berjalan dari tempat pemberhentian bus menuju sekolah.

Nasib buruk kembali dialaminya ketika pulang sekolah.

Di tempat dia menunggu angkutan umum, ada sejumlah kuli bangunan yang sering memberikan siulan, juga teguran seperti, “nunggu siapa mba? Pulang bareng yuk mba,” dan sebagainya.

Kadang segerombol kuli bangunan ini bukannya kerja, malah duduk-duduk memandangi (dengan tatapan melecehkan) perempuan yang sedang menunggu angkot, layaknya sedang melihat barang pajangan di toko.

Perempuan ini alami trauma. Sejak saat itu dia memutuskan untuk mengubah rute pulangnya, dengan harapan tidak lagi mendapatkan perlakuan catcalling.

Baca juga: Pakar UGM Ungkap Cara Penularan Virus Corona yang Kerap Tidak Disadari