Cara Sederhana Agar Hasil Panen Kayu Berkualitas

74

Baca juga: Buruknya Tata Kelola Perkebunan Sebabkan Masyarakat Benci Kelapa Sawit

“Jadi, takutnya kayu jati itu hanya namanya saja, tetapi fisiknya seperti kayu sengon,” ungkapnya.

Widy mengajak masyarakat untuk memutar logika.

Pembentukan kualitas kayu seharusnya sudah dipikirkan sejak awal menanam.

Bukan memilih kayu yang berkualitas setelah menanam.

”Bagaimana kita mendesain dari awal agar kayu yang dihasilkan berkulitas. Misalnya, kalau kita belajar dari rekan-rekan yang bekerja di pemuliaan pohon, sejak menanam mereka juga fokus pada hasil yang akan diraih nanti,” ujar Widy.

Baca juga: Menelaah Hak Korban dan Posisi Masyarakat Adat dalam RKUHP

Hasil yang diraih tersebut terutama bagian dari pohon yang kita butuhkan.

Ketika menanam pohon jati, bagian pohon yang akan dimanfaatkan adalah kayunya, maka sejak awal sudah memikirkan kualitas kayu yang akan dihasilkan.

Begitu juga ketika menanam pohon pinus, bagian yang diharapkan adalah getahnya, maka sejak awal fokus juga pada banyaknya getah yang dihasilkan ke depannya.

Nah, karena kita punya tujuan dan kebutuhan yang beda pada setiap pohon, maka setiap menanam jangan menggunakan parameter yang sama,” ungkap Widy.

Ada pun faktor lain yang mempengaruhi kualitas kayu seperti iklim, proses pemupukan, pemeliharaannya, dan hormon-hormon tumbuhan yang ada di dalamnya.

Untuk mendapatkan kualitas kayu yang dibutuhkan, perlu dilakukan anatomi dan identifikasi kayu.

Widy bersama LPPK UGM juga bertugas mengevaluasi sesuatu yang berkaitan dengan perkaayuan, termasuk seleksi kualitas kayu. (Kinanthi)

Baca juga: Industri Kelapa Sawit dalam Paradoks Pembangunan