Bupati Pertama Brebes adalah Perpaduan Mataram, Cirebon, dan Banten

73
Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (LOKANTARA), Dr. Purwadi, M.Hum., membabar asal usul Bupati pertama Kabupaten Brebes, Tumenggung Arya Suralaya. Foto: Radar Tegal
Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (LOKANTARA), Dr. Purwadi, M.Hum., membabar asal usul Bupati pertama Kabupaten Brebes, Tumenggung Arya Suralaya. Foto: Radar Tegal

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Raja Kesultanan Mataram, Sri Susuhunan Amangkurat Amral (1677-1703), mengamanatkan hal penting kepada Tumenggung Urawan dan Patih Nerang Kusumo.

Hal penting itu adalah rencana pemekaran kabupaten baru di wilayah pesisir utara.

Rapat pun digelar pada 15 Desember 1677 di pusat Kesultanan Cirebon, Kraton Pakungwati.

Alasan digelar di Pakungwati kemungkinan karena wilayah yang hendak dimekarkan lebih dekat dengan pusat kerajaan tetangga tersebut.

Sedangkan saat itu pusat Kesultanan Mataram telah pindah ke Kartasura.

Baca juga: Wisuda Program Sarjana Fakultas Biologi UGM Terasa Spesial

Dalam rapat yang dipimpin Patih Nerangkusumo, Kesultanan Mataram mendatangkan perwakilan dari Kadipaten Surabaya (Pangeran Pekik dan Ratu Pandansari), serta dari Kadipaten Tegal (Pangeran Syamsudin Martawijaya).

Ada pula tiga perwakilan dari Kesultanan Banten; Ratu Syarifah Winaon, Maulana Arya Suranggana Hasanudin, serta Arta Surajaya Hasanudin.

Menurut Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (LOKANTARA), Dr. Purwadi, M.Hum., keputusan rapat tersebut memutuskan pemekaran wilayah yang ada di dalam Kabupaten Tegal.

“Daerah pemekaran baru itu setingkat kabupaten. Daerah yang dimekarkan bernama Kabupaten Brebes,” kata Purwadi, kepada Kagama.

Purwadi menjelaskan, Brebes punya makna filosofis yang tinggi. Sebab, Brebes berarti air yang selalu merembes pelan, tetapi cukup bisa membasahi.

Baca juga: Pesan Dokter RSA UGM bagi Orang Yang Melakukan Karantina Mandiri di Rumah