Budi Karya Sumadi Jelaskan Peran Infrastruktur Transportasi dalam Mendukung Kawasan Ekonomi Khusus

84

Baca juga: Dekan: Fakultas Farmasi UGM Berkembang Juga Berkat Jasa Alumni

Budi memandang, masyarakat kini sudah beradaptasi dengan prosedur protokol kesehatan.

Namun, dia menyeru agar langkah perbaikan juga dilakukan. Misalnya penggunaan teknologi sirkulasi udara HEPA (high efficiency particulate air).

Menurutnya, teknologi ini tidak hanya bisa diterapkan di pesawat terbang.

Namun juga bisa untuk bus, kereta, perahu motor cepat, dan kapal laut.

“Teknologi ini mampu membunuh bakteri dan virus dalam kabin pesawat, dan dapat meminimalkan atau bahkan mengeliminasi risiko penularan Covid-19 di dalam pesawat,” ujar Budi.

Baca juga: Anggota Satmenwa UGM Selesaikan Pendidikan Terjun Bebas Olahraga di Pusdiklat Korpaskhas TNI AU

Langkah perbaikan lain yang telah dilakukan Kementerian Perhubungan adalah penyediaan sejumlah infrastruktur strategis.

Hingga akhir 2019, banyak infrastruktur transportasi backbone strategis yang masuk tahap konstruksi dan penyelesaian.

Seperti Jalan Tol Trans-Jawa (tuntas tahun ini) dan Jalan Tol Trans Sumatera (diperkirakan tuntas 2024).

Ada juga Yogyakarta International Airport (YIA) dan Bandara Internasional Jawa Barat (BJB) yang sama-sama sudah diresmikan Presiden Joko Widodo.

“Terdapat perbedaan mencolok dalam biaya konstruksi kedua bandara ini. YIA menghabiskan Rp11,3 triliun, sedangkan BJB hanya Rp3 triliun,” kata Budi.

Baca juga: Di Balik Keputusan Nezar Patria Jadi Direktur Kelembagaan PT Pos Indonesia